VoyForums

Wednesday, December 30, 19:43:11VoyUser Login optional ] [ Contact Forum Admin ] [ Main index ] [ Post a new message ] [ Search | Check update time | Archives: [1]234 ]
Subject: Re: Latihan Kultivasi Zhuge Liang


Author:
Putra (kirayamato.maiputra@gmail.com)
[ Next Thread | Previous Thread | Next Message | Previous Message ]
Date Posted: 13:18:04 12/25/07 Tue
In reply to: butongpay 's message, "Latihan Kultivasi Zhuge Liang" on 18:07:38 01/11/07 Thu

>Latihan Kultivasi Zhuge Liang
>
>Zhuge Liang adalah ahli strategi militer dari negara
>Han
>pada zaman Tiga Negara (220-280 A.D.). Dia adalah ahli
>strategi yang paling
>cerdik dan terkenal dalam sejarah Tiongkok. Dia
>acapkali dilukiskan sedang
>memakai sebuah jubah dan memegang kipas yang terbuat
>dari bulu burung
>bangau.
>
>Ketika Zhuge Liang berumur 9 tahun, dia masih tidak
>dapat berbicara.
>Keluarganya sangat miskin. Ayahnya menyuruh dia
>menggembalakan domba di
>dekat sebuah bukit di sebuah gunung. Di atas gunung
>ada sebuah kuil Pendeta
>Tao dimana tinggal seorang Pendeta Tao tua dengan
>kepala penuh dengan uban.
>Setiap hari Pendeta Tao tersebut berjalan-jalan santai
>di luar kuil. Ketika
>ia berjumpa Zhuge Liang, dia mencoba berkomunikasi
>dengan anak laki-laki
>tersebut dengan menggunakan isyarat tangan. Zhuge
>Liang juga senang
>"berkomunikasi" dengan Pendeta Tao tersebut dengan
>isyarat tangan. Pendeta
>Tao itu menjadi sangat menyayangi Zhuge Liang yang
>pintar dan menawan itu.
>Dia mulai mengobati masalah kebisuan anak laki-laki
>itu. Tidak lama kemudian
>Zhuge Liang bisa berbicara!
>
>Zhuge Liang sangat gembira ketika akhirnya dia bisa
>bicara. Dia pergi
>mendaki menuju ke kuil Pendeta Tao tersebut untuk
>mengucapkan terima kasih.
>Pendeta Tao tersebut memberitahukannya, "Ketika kau
>pulang ke rumah, katakan
>pada orang tuamu bahwa saya mengangkatmu sebagai murid
>dan saya akan
>mengajari kamu membaca. Saya juga akan mengajarimu
>seni astronomi, geografi
>dan menerapkan teori Ying dan Yang di dalam strategi
>militer. Jika orang
>tuamu setuju, kamu harus hadir di sekolah setiap hari
>dan kamu tidak boleh
>membolos!"
>
>Sejak saat itu, Zhuge Liang menjadi murid Pendeta Tao
>tua tersebut. Hujan
>atau terang, Zhuge Liang akan mendaki gunung untuk
>menerima pelajarannya.
>Dia adalah seorang anak yang sangat pintar dan rajin
>yang sangat serius
>dalam pelajarannya. Dia juga mempunyai daya ingat yang
>sangat tajam. Pendeta
>Tao tersebut tidak pernah harus mengajari segala
>sesuatunya sampai dua kali.
>Dengan sendirinya Pendeta Tao tersebut menjadi semakin
>menyayanginya.
>
>Delapan tahun berlalu dengan cepatnya dan Zhuge Liang
>menjadi seorang
>remaja.
>
>Suatu hari ketika Zhuge Liang seperti biasanya turun
>gunung, dia melewati
>sebuah biara yang telah ditinggalkan, terletak di
>tengah-tengah gunung.
>Tiba-tiba datang hembusan angin yang sangat kuat,
>diikuti dengan badai
>petir. Zhuge Liang tiada pilihan lain selain berlari
>masuk ke biara yang
>telah ditinggalkan itu untuk menghindari badai. Di
>sana ada seorang wanita
>muda yang belum pernah dijumpai keluar untuk bertemu
>dengannya. Dia memiliki
>sepasang mata yang besar dan alis yang tipis. Dia
>begitu cantiknya
>sampai-sampai Zhuge Liang hampir salah mengiranya
>adalah seorang dewi. Dia
>segera tertarik dengan wanita muda tersebut.
>
>Ketika badai berhenti, wanita cantik itu menemui dia
>di depan pintu dan
>berkata padanya dengan tersenyum, "Karena sekarang
>kita sudah saling
>berjumpa. Kamu bebas untuk mampir dan menikmati
>secangkir teh kapanpun kau
>ingin beristirahat dalam perjalananmu turun atau naik
>ke gunung." Begitu
>Zhuge Liang berjalan keluar dari biara itu, dia merasa
>curiga. "Mengapa saya
>tidak mengetahui ada orang yang tinggal di biara ini
>sebelumnya?" pikirnya.
>
>Sejak hari itu, Zhuge Liang mulai sering mengunjungi
>biara tersebut. Setiap
>kali wanita cantik itu selalu menghiburnya dengan
>ramah tamah. Dia memasak
>makanan yang enak untuknya dan selalu membujuknya
>untuk tinggal lebih lama.
>Setelah makan malam mereka selalu berbincang-bincang
>dengan seru dan bermain
>catur. Dibandingkan dengan kuil Pendeta Tao, biara
>tersebut bagaikan surga.
>
>Selalu memikirkan wanita itu mengalihkan perhatiannya
>dari pendidikannya dan
>
>dia mulai kehilangan semangat untuk belajar. Dia
>semakin lama semakin kurang
>perhatiannya terhadap ajaran dari Pendeta Tao. Dia
>juga menjadi pelupa dan
>mengalami kesulitan dalam mempelajari buku pelajaran
>baru.
>
>Pendeta Tao tua itu menemukan masalahnya. Suatu hari
>dia memanggil Zhuge
>Liang dan menarik napas panjang. "Lebih mudah
>menghancurkan sebuah pohon
>daripada menanam sebuah pohon!" ujarnya. "Saya telah
>menyia-nyiakan banyak
>tahun untuk kamu!"
>
>Zhuge Liang menundukan kepalanya karena malu dan
>berkata, "Guru, saya tidak
>akan mengecewakan anda lagi atau menyia-nyiakan ajaran
>anda!"
>
>"Saya tidak mempercaimu," kata Pendeta Tao tua. "Saya
>tahu kamu adalah
>seorang anak yang sangat cerdas, karena itu saya ingin
>mengobati penyakitmu
>dan memberimu sebuah pendidikan yang layak. Delapan
>tahun terakhir ini kamu
>telah sangat dalam pendidikanmu, jadi saya berpikir
>bahwa kerja keras untuk
>mendidikmu adalah pantas. Tetapi sekarang kamu
>melalaikan pendidikanmu.
>Bagaimanapun pandainya kamu, kamu tidak dapat
>kemana-mana jika kamu
>terus-menerus seperti ini! Sekarang kamu berjanji
>padaku untuk tidak akan
>pernah lagi mengecewakan aku. Bagaimana saya dapat
>mempercayai kata-katamu?"
>
>Pendeta Tao tua melanjutkan, "Semua ada penyebabnya."
>Kemudian dia menunjuk
>ke sebatang pohon yang terbungkus oleh banyak tumbuhan
>merambat yang tebal
>di halaman. "Lihat pohon itu," katanya. "Mengapa kamu
>pikir pohon itu
>setengah hidup dan sedang berjuang dalam setiap
>pertumbuhannya?"
>
>"Tanaman merambat yang melilit pohon menghalangi
>pertumbuhannya!" jawab
>Zhuge Liang.
>
>"Tepat sekali! Pohon ini mengalami kesulitan untuk
>tumbuh di gunung cadas
>dengan tanah yang sedikit ini. Tetapi dia tetap tumbuh
>karena dia teguh
>untuk mengembangkan akar dan cabangnya. Dia tidak
>takut udara panas maupun
>dingin. Tetapi, ketika tanaman merambat membungkusnya,
>dia tidak dapat
>tumbuh lebih tinggi lagi. Lucukan bagaimana tanaman
>merambat yang lembut itu
>bisa mengalahkan pohon yang tinggi dan tegap itu!"
>
>Zhuge Liang sangat pintar, jadi dia segera memahami
>apa yang dimaksud oleh
>Gurunya. Dia bertanya, "Guru, anda mengetahui
>kunjungan saya ke biara itu"
>
>Pendeta Tao tua berkata, "Hidup di dekat air,
>seseorang akan mempelajari
>sifat alami ikan. Hidup di gunung, seseorang akan
>mempelajari bahasa burung.
>Saya telah mengamati kamu dan tingkah lakumu.
>Bagaimana mungkin hubungan
>asmaramu luput dari perhatianku?"
>
>Dia berhenti sebentar sebelum memberitahukan muridnya
>dengan tatapan yang
>serius, "Biar kuberitahu kamu kebenaran mengenai
>wanita cantik itu. Dia
>bukan manusia. Dia adalah burung bangau dewa di surga.
>Dia telah diusir
>keluar dari istana langit sebagai hukuman karena telah
>mencuri dan memakan
>buah persik Ratu Langit. Dia datang ke dunia manusia
>dan menjelma menjadi
>seorang wanita cantik. Dia adalah bangau dewa yang
>telah rusak moralnya yang
>tahunya hanya mencari kesenangan. Kamu telah terpedaya
>oleh penampilannya,
>kamu telah menyia-nyiakan tidak hanya waktumu saja.
>Jika kamu membiarkan
>dirimu kehilangan kemauanmu, kamu akan kehilangan
>segalanya! Selain itu,
>jika kamu tidak menuruti kehendaknya, akhirnya dia
>akan menyakitimu.
>
>Sampai waktu itu Zhuge Liang baru menyadari keseriusan
>dari petualangannya.
>Dengan cemas dia meminta gurunya cara mengatasinya.
>
>Pendeta Tao tua berkata, "Bangau dewa tersebut
>mempunyai kebiasaan pada
>tengah malam menjelma kembali ke bentuk semulanya dan
>terbang ke sungai
>langit untuk mandi. Ketika dia menjauhi biara, kamu
>harus masuk ke kamarnya
>dan bakar jubahnya. Dia mencuri jubah tersebut dari
>Istana Langit. Tanpa
>jubah, dia tidak akan dapat menjelma menjadi seorang
>wanita cantik.
>
>Zhuge Liang berjanji untuk mengikuti instruksi
>Gurunya. Sebelum ia pergi,
>Gurunya memberikan sebuah tongkat dengan ukiran kepala
>naga di ujung
>atasnya. Dia memberitahu Zhuge Liang, "Ketika bangau
>dewa tersebut
>mengetahui kebakaran di dalam biara, dia akan segera
>terbang kembali dari
>sungai langit. Dia akan menyadari bahwa kamu telah
>membakar jubahnya dan
>akan menyerang kamu. Ketika itu terjadi, kau harus
>memukulnya dengan tongkat
>ini! Sangatlah penting untuk kau ingat dan mengerjakan
>apa yang telah aku
>beritahukan kepadamu!"
>
>Tengah malam, diam-diam Zhuge Liang pergi ke biara
>tersebut. Dia membuka
>kamar wanita itu dan menemukan jubahnya di atas
>ranjang. Dia segera membakar
>jubah tersebut.
>
>Ketika bangau dewa sedang mandi di sungai langit,
>tiba-tiba dia merasa
>jantungnya sakit. Dia melihat ke arah biara dan
>melihat api. Dia segera
>terbang ke bawah dan melihat Zhuge Liang telah
>membakar jubahnya. Dia
>menghampiri Zhuge Liang dan berusaha menyerang matanya
>dengan paruh. Zhuge
>Liang mempunyai reflek yang cepat. Dia mengangkat
>tongkatnya dan memukul
>jatuh bangau dewa. Kemudian dia menangkap ekor bangau
>itu. Bangau dewa itu
>memberontak dan berhasil meloloskan diri, tetapi dia
>kehilangan bulu ekornya
>pada Zhuge Liang.
>
>Dia menjadi seekor bangau dengan ekor botak. Dia
>menjadi malu dengan
>penampilannya, sehingga dia berhenti mandi di sungai
>langit. Dia juga tidak
>berani memasuki Istana Langit untuk mencuri jubah
>lagi, jadi dia tidak punya
>pilihan lain selain tetap tinggal di dunia manusia
>selamanya dan hidup
>diantara bangau biasa.
>
>Untuk mengingatkan dirinya sendiri akan pelajaran ini,
>Zhuge Liang menyimpan
>bulu ekor bangau itu.
>Sejak hari itu, Zhuge Liang menjadi semakin rajin. Dia
>akan menghafal semua
>yang diajarkan oleh Gurunya dan semua buku pelajaran.
>Dia benar-benar
>menyerap apa yang telah dipelajarinya dan dapat
>menerapkannya dengan mudah.
>Setahun telah lewat. Tepat pada hari ia membakar jubah
>bangau dewa setahun
>yang lalu, pendeta Tao tua memberitahukannya dengan
>sebuah senyuman lebar,
>"Muridku, kau telah belajar dibawah pengawasanku
>selama sembilan tahun. Saya
>telah mengajarimu semua yang harus kau pelajari dan
>kamu telah mempelajari
>semua buku pelajaran di sini. Ada sebuah pepatah,
>"Guru membawamu ke pintu
>masuk, dan terserah padamu untuk berlatih kultivasi.'
>Sekarang kamu berusia
>18 tahun. Sudah saatnya kamu meninggalkan rumah dan
>mengembangkan karirmu!"
>
>Ketika Zhuge Liang mendengar bahwa ia telah
>menyelesaikan pendidikannya, dia
>
>memohon gurunya untuk mengajarinya lagi. "Guru!
>Semakin banyak saya belajar,
>saya merasa semakin rendah hati. Saya merasa masih
>banyak yang harus saya
>pelajari dari anda!"
>
>"Pendidikan sejati berasal dari kehidupan nyata. Kau
>harus belajar
>menerapkan pengetahuanmu didalam kehidupan dan
>merancang pemecahan yang
>berbeda untuk situasi yang berbeda! Sebagi contoh, kau
>telah belajar sebuah
>pelajaran yang penting dari kunjunganmu dengan bangau
>dewa bahwa seseorang
>tidak seharusnya tergoda oleh nafsu atau perasaan. Ini
>adalah pelajaran
>berguna yang diperoleh dari pengalaman nyata. Dengan
>hal itu didalam
>pikiran, kamu tidak akan dibuat binggung oleh
>permukaan maya dari dunia ini.
>
>Berhati-hatilah dalam setiap tindakanmu. Kamu harus
>melihat segalanya dalam
>bentuk sejatinya. Ini adalah nasihat perpisahan saya
>kepadamu! Saya akan
>meninggalkanmu hari ini."
>
>"Guru, kemana Anda akan pergi?" dengan heran Zhuge
>Liang bertanya. "dimana
>saya dapat menemuimu atau mengunjungimu di kemudian
>hari?"
>
>"Saya akan keliling dunia dan tidak akan menetap lagi."
>
>Tiba-tiba Zhuge Liang merasakan air mata yang hangat
>menetes dari matanya.
>Dia berkata, "Guru! Sebelum anda pergi, anda harus
>memberikan aku kesempatan
>untuk bersujud kepada anda dan berterima kasih kepada
>anda atas pendidikan
>yang anda berikan padaku!"
>
>Kemudia Zhuge Liang bersujud kepada Gurunya. Ketika
>dia berdiri, Pendeta Tao
>
>tersebut telah menghilang.
>
>Pendeta Tao itu meninggalkannya sebuah jubah dengan
>gambar patkwa. Zhuge
>Liang sering memikirkan Gurunya; karena itu, ia sering
>memakai jubah dengan
>gambar patkwa sebab memberikannya perasaan bahwa
>Gurunya berada di
>sampingnya.
>
>Zhuge Liang tidak pernah lupa nasihat Gurunya,
>terutama nasihat
>perpisahannya. Dia membuat kipas dari bulu ekor bangau
>dewa untuk
>mengingatkan dirinya sendiri untuk sangat berhati-hati
>seumur hidupnya. Ini
>adalah cerita dibalik kipas bulu terkenal yang dibawa
>oleh Zhuge Liang.

[ Next Thread | Previous Thread | Next Message | Previous Message ]


VoyUser Login ] Not required to post.
Post a public reply to this message | Go post a new public message
* Notice: Posting problems? [ Click here ]
* HTML allowed in marked fields.
Message subject (required):

Name (required):

  Expression (Optional mood/title along with your name) Examples: (happy, sad, The Joyful, etc.) help)

  E-mail address (required):

Type your message here:

Choose Message Icon: [ View Emoticons ]

Notice: Copies of your message may remain on this and other systems on internet. Please be respectful.

[ Contact Forum Admin ]


Forum timezone: GMT+7
VF Version: 2.94, ConfDB:
Before posting please read our privacy policy.
VoyForums(tm) is a Free Service from Voyager Info-Systems.
Copyright © 1998-2008 Voyager Info-Systems. All Rights Reserved.