| Subject: Sahabat |
Author: jekiy
| [ Next Thread |
Previous Thread |
Next Message |
Previous Message
]
Date Posted: 09:41:59 03/17/09 Tue GMT 0700
Dalam menghadapi kesulitan hidup, kadang kita baru menghargai betul arti sahabat. Gw mengalami itu.
Sekilas latar belakang gw: I’m 30, introvert, tightly closed in the closet, pemalu. Tapi luar biasanya, 2 tahun lalu, seorang cewek cantik dan ‘nembak’ gw. And, we lived happily ever after... NOT. Satu2nya kendala adalah dia ingin menikah dan berkeluarga. Dan akhirnya terjadi, dg cara yg tidak mengenakkan. Yang tadinya kita selalu jujur, gw tau dia deket sama cowo siapa aja. Bahkan terkadang gw antar dia utk kencan sama cowo yg deketin dia. Tp yg terakhir dia pilih jalan diam2, dan akhirnya gw tau. Sakit? Banget!
Tadinya gw yang pemikir mencoba untuk menganalisa kembali semua kejadian. Tapi ujung2nya tambah ruwet. Gw makin bingung. Gw jadi plin plan dalam mengambil segala macam keputusan. Gw menempatkan diri gw sebagai seorang korban. Hampir setiap malam gw berpikir, kenapa bisa begini, apakah akhirnya akan berbeda kalau gw melakukan ini atau itu. Air mata tu sampe bergalon-galon. Gw ga bisa lepasin dia dengan rela hati. Dan gawatnya lagi dia juga ngaku masih ada feeling sama gw. Akhirnya hubungan kita jadi tarik ulur, saling menyayangi, tapi juga saling menyakiti. Gw yang dulunya anti banget dengan hal2 berbau terlalu sinetron, ternyata terjebak dalam drama pribadi sendiri.
Di saat2 itu, gw bersyukur ada sahabat2 gw. Saat2 gw insomnia, ga bisa tidur tapi juga ga bisa cerita apa2 krn sifat introvert gw, mereka duduk menemani dengan secangkir teh, sambil menguap mereka mencoba bercerita hal-hal menyenangkan untuk menghibur gw. Sampe2 gw ga tega dan berpura2 utk ngantuk sendiri supaya mereka bisa tidur dan gw kembali ke kamar gw dengan eyes still wide open ga bisa tidur.
Meskipun akhirnya gw mengalami masa hibernasi 3 bulan yang ga jelas dan kehilangan 6 kg berat badan gw, dengan bantuan sahabat2 gw, akhirnya gw bisa menganalisa semuanya dengan lebih jelas. Ga ada yang jadi korban, ga ada yang benar, ga ada yang salah. Dengan berat hati, akhirnya gw bisa nerima, gw dan dia memang ga bisa bersama lagi. Gw masih sayang dia. Gw juga tau dia masih sayang gw. Itu aja udah cukup.
Dan kembali lagi dalam masa2 pelepasan ini, sahabat2 gw berperan penting. Menurut mereka gw adalah seorang yang terlalu aktif menggunakan logika sehingga hati gw terlalu kaku. Jadi mereka mencoba “terapi” membuat hati gw lebih sensitif. Misalnya, bbrp hari yang lalu mereka menemani gw ke acara meditasi Anand Krisna. Lalu kemaren, sohib gw mbah poxie yang seorang seniman mengajak gw ke pantai untuk belajar menggambar sketsa, dan si petto selalu menemani gw ngobrol2 membagi pengalaman patah hatinya sambil merokok marlboro mentol kesukaannya.
Slowly but sure, my heart is healing, thanks for my friends.
“Poxie & Petto, thanks for being there for me. “
- jek -
[
Next Thread |
Previous Thread |
Next Message |
Previous Message
] |
|