|
[> Subject: Vipassana?
|
Author:
R
[Edit]
|
Date Posted: 09:17:54 11/07/06 Tue GMT 0700
LOL :)!!!
*ngakak*
Jadi, paling menarik memang mencermati simulasi varietas teori perturbasi dan setelahnya, termasuk proses transient length karena proses ini adalah bagian dari kumpulan proyeksi dan/atau suksesi dalam sebuah system hayati makhluk. Transient length menjawab bahwa takdir dan nasib adalah konvergen zero (0), artinya transient length adalah proses yang menjembatani keputusan masa depan (omega). Yang ada diantara proses itu adalah medan dan geometri diferensial. Apapun yang katanya mengalir secara alamiah.....sebenarnya dapat direncanakan atau direkayasa berdasarkan kondisi, pilihan, keputusan primacausa, tipe persoalan variabel x, y, alpha, betta, gamma, penyerta, peluang, asosiasi, system thinking, self-against-will, dst termasuk ordinat kompleksnya.
Transient length (kasar2annya aja) merupakan penjelasan kalo masa depan adalah kemajuan yang terus berlangsung terjadi pada setiap era dan terjadi melalui peran serta inovatif, imajinatif, dan dilakukan dengan sadar oleh setiap individu (evolusi spiritual). Bahwa masa depan adalah sesuatu yang kita ciptakan, bukan kita terima mengalir begitu saja secara pasif, ....tetapi secara aktif memproyeksikan akumulasi kasus per kasus dari system hayati tunggal maupun majemuk baik itu masa lalu, masa kini, masa diantara masa kini dan masa depan. Perencanaan system hayati manusia artinya penyingkapan tuhan sebagai Alam Semesta yang dipengaruhi oleh peran serta manusia yang bebas dan kreatif. Tujuan manusia adalah menyadari akan pengaruh besar mereka pada penyingkapan penciptaan diri mereka dan terjun bebas dengan itu (kita bukan nat???). Jika perubahan quantum dalam kesadaran semacam itu benar-benar terjadi, itu akan mewakili kemenangan heroik atas determinisme... (lagi2 Om Laplace dibunuh!).
Perumpamaan Om Bohm mengenai laut dan gelombang untuk “dinamika perturbasi, transient dan waktu” dijelaskan seperti begini “bahwa gelombang di laut naik, lalu jatuh kembali ke kedalaman samudera; namun setiap gelombang baru merupakan ungkapan yang baru pula dari laut, meskipun masih disisipi dengan unsur-unsur dari gelombang sebelumnya”.
Metafisika mengenai waktu dan nasib membedakan antara saat ketika masa lalu bertumpang tindih dengan masa depan yang kemudian membentuknya, dan saat terjadinya peristiwa secara simultan ketika anak panah yang bergerak ke depan terpotong oleh dimensi transenden-seperti masuknya energi baru yang tak tercipta ke dalam keadaan yang telah pasti dan stagnan (***pir vil inayat, pemimpin tarekat sufi 1956).
Kita tidak dapat membebaskan diri dari identifikasi kita dengan diri individual kita kecuali jika kita membuka diri terhadap dimensi tak terbatas – ad infinitum, tak ada habis2nya - maha kosmosis superlatif (***theology metaphysics, catholic rome, santo francis dari asisi).
[ Post a Reply to This Message ]
|
|