Author:
wajdyaraka
[Edit]
|
Date Posted: 11:19:10 12/05/06 Tue GMT 0700
pacarku sangat PRO dengan labelling.masih beberapa tahun yang lalu saat dia sedang bersama seseorang bernama Anggie (sial tiapmenulis nama ini aku cemburu berat, SUMPAH!!! kekasihku, permaisuri hatiku itu, SANGAT TERLUKA bahkan hingga sekarang dan itu menandakan kedalaman cintanya pada gadis itu. aku selalu bertanya-tanya mungkinkah ia akan sebegitunya terluka jika aku menyakitinya--suatu pertayaan yang tak ada keberanian padaku membuktikannya)
get real deh, baku amat...
kembali ke masalah awal. Pacarku sangat PRO dengan labelling. Dulu dia sanagt butchie bahkan sebelum ia tahu apa itu butchie. aku kira ia menganggap dirinya cowok,deh. ia pernah ribut pacarnya, Anggi itu, selalu memperlakukannya sebagai cowok dalam sikap dan penampilan, bahkan sampai beliin CD cowo segala (yang dengan bodoh refleks kubilang aku juga pakai cd cowo sejak SMA dan baju2 cowo dari SMP tanpa berpikir itu membuatku jadi apa, berhubung ukuran pantat gak masuk cd cewe yang sok minimalis itu, dan baju cowok lebih "menutup aurat"--maaf-- ketimbang baju cewek). dan waktu aku bertemu dengannya di suatu forum, ia memang sangat cowok bahkan langsung jadi sampel sang moderator kaladiminta menjelaskan apa itu seorang transex (yang jelas bukan asosiasi bekas pemilik trans tv). gayanya,pakaiannya, caranya menghembuskan rokok, dan bahkan caranya bicara,walau sangat minimalis.
aku jadian dengannya setengah tahun setelah kami pertama bertemu,melewati dua pacarnya di antara jeda waktu itu. saat aku hadir ia agak memeikirkan untuk sedikit mengubah penampilan. well bukan berarti jadi feminin tapi paling tidak jadi butchie yang lebih stylish. ia mau memakai jeans yang agak membentuk kaki,biar sebenarny kakinya terlalu kecil untuk bisa tercetak celananya, dan mungkin tidak menjahit vertikal cup bra-tanpa-busa-nya, yang katanya dulu ia terapkan untuk membuat tampilan dadanya rata. pacarnya saat itu masih menganggapnya cowok--bahkan saat ia pacaran dengan seorang butchie yg pura-pura andro.
aku bertekad untuk menerimanya sebagai buutchie atau cowok, whateper it is--waktu pertama kali ketemu. pas itu aku masih berpikir untuk--yah,berusaha sedikit tampak "normal". karena aku yang luar-dalam-lahir-batin mengaku femme memang dasarnya naksir yang sangat feminin. well aku tampak agak "belok dua kali" atau semacamnya,bahkan rasanya aneh saat ngomong-ngomong di forum yang isinya L semua, yang ribut ngomongin ketentuan patriarki yang bipolar dalam dunia belok ini. mungkin nantinya, akalu aku bisa naksir butchie, aku bisa juga kali naksir cowok, gitu deh yang terlintas di pikiran. awalnya jalan aja, tapi guliran roda waktu berikutnya tidak membawaku, kami, ke sana.
ia datang dengan t-shirt cewek yang rada berbentuk dan rada ketat ke kosanku, pada hari kami jadian. ia memang rada bersikap seperti cowok, bersuara berat, dan aku merasakan ganjalan. lalu ia meneleponku suatu waktu, agak merajuk memaksaku datang, suaranya begitu kecil dan ringan, benar-benar lembut,dan agak merajuk. dan saat itu aku merasakan kebahagiaan yang luar biasa--untuk pertama kali aku terlonjak ia menginginkanku ada untuknya, tidak dengan jantan menyediakan dirinya untukku. lalu berikutnya aku datang ke rumahnya. di kamarnya ada dua orang lain, ia merokok, duduk, dan bersikap seperti cowok. menggitar dan menyanyi lagu-lagu underground yang mungkin asyik tetapi aku menahan diri darinya. tapi lantas ia disuruh mmong ponakannya, bayi yangs angat cantik. saat itu suaranya yang ringan dan renyah muncul, benar-benar Tasik, dan rona wajahnya lembut, sangat cantik. caranya menggendong,dan menggerai rambutnya, dan saat berputar hingga rambutnya mengombak di antara molekul-molekul udara, caraya membuat si bayi tertawa, mata kecilnya yang berusaha dipelototkannya, dan sungging tawanya, aku benar-benar terpesona. dan aku sadar, saat itu pula aku telah mengkhianati pacarku yang butchie, karena aku jatuh cinta pada sisi feminin dirinya.
kami sudah hampir dua tahun sejak saat itu. aku mungkin jahat, aku berterus-terang dengan semua itu. aku selalu menyebutnya cantik, bukan ganteng seperti harapannya. memanggilnya 'my girl--teteh', bukan 'my boy--aa, acep', sungguhpun itu yang ia inginkan. ia pernah protes, tapi sekarang terbiasa. aku tak tahu alasannya, mungkin karena ia menilai sisi lainnya--ia tahu aku tidak menebar pandanganku ke mana-mana, bagiku sudah ada dirinya, jangankan berselingkuh dengan cowok, gadis sefeminin apapun sudah sulit menggoda pikiranku. jadi ia bertahan dalam sosok yang lebih,jauh lebih feminin. teman-temannya kadang bilang lebih baik ia yang dulu, kadang juga aku merasa itu lebih baik bagi dirinya. tetapi aku sulit membungkan egoku.
ya, mungkin egois menginginkan label yang lain melekat pada kekasih yang seharusnya kita terima sepenuhnya. tapi sangat sulit melepas keinginan--hingga kini pun aku selalu merasa aneh jika melihatnya agak-terlalu cuek soal pakaian, terlalu tampak seperti butchie. jahat ya aku? entahlah.dia jauh lebih cantik saat agak feminin, tidak usah terlalu feminin, cukup karakteristik femininnya menguat. ia begitu mungil, imut-imut, manis bangget, rasanya ingin kupeluk. kadang ia sering meyatakan kerinduannya jadi butchie bangget lagi. aku mungkin saja dengan sok arif bilang "aku mencintaimu apa adanya" atau "yang terbaik bagimu, adalah membebaskan jiwamud an emnajdi dirimu" serta segunung ungkapan lain. tetapi jika begitu aku munafik.
yah, aku mencintainya. pada kebaikannya, kesabarannya, kedewasaannya, kelembutan tuturnya, panjang pikirannya, pertimbangannya (aku terlalu spontan dan agak emosional, gak sabaran lagi--tapi juga ia terlalu lelet dan sok menuntut, kurang inisiatif lagi) dan banyak hal kemungilan dan kemanjaannya.
cuma aku tidak menyukai ke-butchie-annya. satu yang kadang membuatku merasa rendah diri di hadapan mantan-mantannya. well, biar dibencinya karena pada selingkuh, mereka kan bisa membuatnya merasa utuh sebagai cowok, bukan cewek. dan aku malah merekomendasikan bra dengan busa tebal dan senam goyang inul untuk membuat tubuhnya lebih berbentuk--soalnya dia keciiiiillll banget, kalau tinggi aja, pasti jadi model.
kadang LABELLING tidak membuat dunia lebih baik, bahkan dalam banyak hal, ia SANGAT membuat dunia tidak lebih baik. aku merasakannya dari tatapannya, tatapan teman-temannya,dan pertanyaan "siapa yang butchie siapa yang femme?" tiapkali kami berkenalan dengan L manapun. menyebalkan.bisakah aku mencintainya sebagai perempuan, sedang aku seorang perempuan? haruskah salah satu dari kami menjadi imitasi laki-laki, bila itu tidak disukai masing-masing kami terhadap pasangannya? ataukah harus membebaskan diri, menjadi imitasi laki-laki itu, karena itu membebaskan jiwa dari tekanan? ataukah itu semua hanya tuntutan?
membebaskan diri atau menjadi seperti yang diinginkan pasangan?
mendapatkan yang diinginkan atau mencintai apa adanya?
apa sebenarnya yang "apa adanya"?
apakah karena memakai cd cowok harus menjadi butchie, apakah karena memakai bra busa cup D harus menjadi femme? apakah saat seseorang mencintai femme itu keterpaksaan juga, tuntutan, karena ia merasa dirinya cowok? atau apakah saat mencintai femme harus menjadi cowok (baca: butchie atawa trans)
rese yah, zaman gini masih ngributin itu jugaaa.....
Rae
[ Post a Reply to This Message ]
|