|
[> Subject: Kehidupan seorang lesbian? "Why not!"
|
Author:
Lulu
[Edit]
|
Date Posted: 01:21:18 05/12/08 Mon GMT 0700
Buat aku tujuan hidup lesbian layaknya tidak berbeda dgn kehidupan org2 non-gay. Semua org akan memilih kehidupan yg terbaik untuk diri kita masing2.
Semua org tidak menginginkan kehidupan yg akan menyulitkan diri kita masing2. Namun terkadang segala bentuk benturan dan kegagalan belum tentu dapat kita hindari. Untuk mengantisipasi segala kekecewaan yg akan menimpa kehidupan yg seperti itu, butuh kedewasaan serta pengertian terhadap lingkungan terdekat, keluarga sampai tempat kerja.
Org2 non-gay tidak menjamin dalam kehidupan mereka akan selamanya baik dan harmonis. Tidak sedikit dalam pernikahan mengalami kesusahan, baik terhadap pasangan, keluarga in-laws, godaan2 serta merta selingkuhan. Namun itu tetap saja ada yg terjadi.
Kedewasaan ssorg menjadi kunci dlm memerankan kehidupannya sendiri. Tdk ada di dunia ini org meminta untuk jadi sorg gay. Namun seandainya org tsb sudah ditentukan untuk menjadi sorg gay disinilah org tsb hrs menentukan bagaimana dia harus berperan untuk yg terbaik, baik untuk dirinya sendiri, keluarga serta lingkungan pekerjaannya.
Sy sudah merasakan diri sy sorg gay sejak sy berusia 10 thn. Sy begitu menyukai kedekatan sy dgn teman2 perempuan. Sampai menginjak remaja, dimana2 putri2 remaja asyik dgn percakapan tentang cowoq2 mrk, sy juga asyik dgn teman2 perempuan yg hanya sebatas dlm hati yg sy kagumi.
Berbagai acting dilakukan spy tidak terlihat "aneh" oleh teman2. Ikut2an ngomonging soal cowoq ikut2an naksir cowoq sampai ikut2an pacaran sama cowoq. Tapi tetap saja rasa yg dimiliki tidak membuat sy ada perbedaannya selama berdekatan dgn cowoq. Akhirnya waktu berlangsung dan lewat menanjak kemasa dewaasa, sy akan lelah sendiri untuk menghindar dari kenyataan. Sy harus menerima diri sy seorg gay. Sy perempuan yg hanya bisa menyukai sorg perempuan.
Tapi bagaimana dgn keluarga? Dgn org tua? Dgn kakak dan atau adik? Apakah mereka bisa menerima?
Tentu sy akan berusaha untuk menyembunyikan segala sesuatunya agar mereka tidak mengetahui "secret" diri sy ini. Kelelahanlah akhirnya yg terasa.
Sy tau, untuk mengatakan secara "direct" butuh kekuatan dan keberanian yg luar biasa. Spt nya hal ini sangan menakutkan. Akhirnya secara perlahan2, dan tanpa mengatakan yg sebenarnya sy tetap menjalankan kehidupan sy sebagai sorg gay, terutama dihadapan keluarga sy sendiri.
Stp sy memiliki sebuah hubungan dgn "gf" sy. Sy tidak pernah mengatakan kepada keluarga kalau perempuan itu adalah "gf" sy. Tapi sy juga tidak menyembunyikan kehadiran si dia di dpn keluarga. Yah, sekedar menyebut ini teman la... Namun mereka juga org2 yg sudah dewasa yg dapat melihat dan merasa. Setelah 2 atau 3 kali sy ganti2 "gf" akhirnya pihak keluarga lah yg tidak segan2 menembak sy.
Sy ditanya secara langsung, dgn ciri2 khas yg mereka lihat sendiri. Sy tidak pernah terlihat kedekatan dgn sorg lelaki. Tdk pernah berbicara soal pernikahan. Org2 yg sy kenalkan sebagai teman semuanya adalah perempuan. Sy justru merasa ini adalah kesempatan untuk sy memberitau kepada mereka siapa sy sebenarnya.
Sy tau betapa kecewanya mereka melihat kenyataan ini. Tapi sy sangat bersyukur, sangat-sangat bersyukur, keluarga sy bukan lah org2 yg picik dan sempit dlm pemikiran serta ilmu pengetahuan. Mrk tau sy menjadi gay bukannya sy yg membuat diri sy sendiri jadi gay. Mrk tau bukan org lain atau siapapun yg membuat sy jadi gay. Dan mrk dpt merasakan jg sy menjadi gay adalah tidak mudah untuk diri sy sendiri menjalankannya.
Waktu berlalu, sy tau keluarga dapat menerimanya. Sy mengerti mereka menerima bukan berarti sy boleh seenaknya saja menjalankan kehidupan sy. Sy tetap ada "Tanggung Jawab" sebagai sorg anak terhadap org tua dan juga sebagai sorg saudara terhadap kakak atau dan adik.
Setelah melewati beberapa hubungan yg kurang beruntung, sy pelajari semua kegagalan2 demi kegagagalan. Apa sebab dan penyebabnya. Baik untuk diri sy sendiri maupun untuk keluarga, sorg pasangan yg seperti apa kira2 dapat diterima oleh mereka.
Sy sekali lagi bersyukur pasangan sy saat ini adalah org yg tidak banyak perbedaannya dgn background keluarga sy sendiri. Sy dapat menemukan org yg dapat bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri, yaitu mempunyai pekerjaan, penghasilan dan tidak bergantung pada org lain.
Di dpn keluarga "tingkat laku" tetap kita jaga, bukan berarti dpt seenaknya saja. Sopan santun tetap kita tunjukkan, rasa hormat tetap dijaga.
Tidak seperti org yg mabok cinta, harus bertemu setiap hari, harus sms setiap menit, harus telp berjam2.
Bulan demi bulan hubungan sudah berlalu, "sign-sign" positif pun terlihat dari reaksi org tua dan saudara. Akhirnya sy pun memberanikan diri untuk memberitahu mereka pada suatu saat kita merencanakan untuk hidup bersama.
Karena mereka melihat pada diri sy maupun "gf" sy kita sudah mapan dlm pekerjaan kita masing2, sudah dapat bertanggung jawab dlm kehidupan masing2. Hubungan bukan berdasar "kegilaan" tetapi berdasar kasih sayang. Akhirnya mereka tidak keberatan kalau satu hari nanti, sy dan pasangan sy membeli tempat tinggal untuk kita berdua.
Dari pengalamanan kehidupan sy ini, yg ingin sy sampaikan adalah, segalanya terkadang tidak perlu kita buyar2kan dgn kata2. Org dapat melihat dari "tingkat laku" diri kita, seperti apa kita ini. Untuk diri sendiri saja apakah sudah dapat membuktikan sorg yg bertanggung jawab. Dalam hal pekerjaan. Dapat menjaga hubungan yg harmonis dgn keluarga dan saudara2. Pasangan bukan hanya untuk pelampisan hawa napsu "sex" belaka. Bilan segala sesuatunya yg kita tunjukkan dalam menunjukkan kita org yg dewasa dan bertanggung jawab, sy rasa menjalankan kehidupan sebagai lesbian, "WHY NOT !!"
Susah, senang, sedih, bahagia, sukses, gagal buat sy sebagian besar adalah kita sendiri yg membuatnya. Tidak ada yg menjanjikan hidup akan begitu indahnya untuk setiap org, namun bukan berarti hidup yg dianggap org "normal" adalah kehidupan yg terbaik.
Untuk sy org2 gay adalah org2 yg normal, yg diperlukan adalah jalankan kehidupan ini dgn sebaik2nya, dewasa dlm bertindak, bertanggung jawab dlm segala hal, tidak ekstrem dalam tingkah laku. Kebahagiaan itu tidak memihak dan memilih, kebahagiaan bukanlah milik segolongan org. Kekayaan tidak mampu membeli kebahagian. Sy bersyukur kebahagiaan yg sy miliki adalah pekerjaan, keluarga, kakak/adik, serta "gf" dalam hidup sy ini.
[ Post a Reply to This Message ]
|
|