| Subject: :) |
Author: bonnie
| [ Next Thread |
Previous Thread |
Next Message |
Previous Message
]
Date Posted: 09:48:53 05/28/09 Thu GMT 0700 In reply to:
ratu
's message, "Pertanyaan buat Lesbii" on 07:21:02 05/26/09 Tue GMT 0700
Ratu,
Saya berumur 39 tahun. Saya pribadi juga sempat tidak berani. Butuh waktu untuk menemukan keberanian, memperhitungkan resikonya dan mengambil keputusan dan menanggung hasil keputusan itu. Bukannya mudah tapi bagi saya sangat patut diperjuangankan.
Mungkin saya beruntung, sebelum berani, ayah saya menanyakan apakah saya lesbian? Jadi berani atau tidak ya harus dihadapi. Untungnya beliau siap dan menerima. Tapi apakah itu cukup? Tidak serta merta begitu juga. Kami harus berproses melampaui banyak hal sehingga kami benar2 saling dapat menerima dengan baik.
Bahagia? Jujurnya diterima oleh orang tua sih sangat menguntungkan, melegakan. Tapi tidak menyelesaikan seluruh masalah saya. Ada masa2nya saya berpasangan dengan orang yang tidak diterima orientasi seksualnya oleh keluarganya. Hasilnya juga sama: kita harus berpisah, dlsb. Masalah lain juga banyak bukan cuma urusan orientasi seksual. Kebahagiaan datang dan pergi. Tapi kebahagian yang permanen adalah ketika saya benar2 menerima orientasi seksual saya dan berhenti menyalahkan orientasi seksual saya sebagai sumber masalah saya.
Banyak kog orang yang harus pisah sama pasangannya karena tidak disetujui orang tua atau keluarga mereka. Banyak orang yang harus berpisah sama orang yang dicintainya karena pasangannya tidak mencintainya lagi. Bukan karena restu orang tua. Sama aja kog menyakitkannya ketika kita dapat restu dari orang tua kita tapi pasangan kita tidak, atau karena pasangan kita tidak mencintai kita lagi. Atau bahkan bukan karena dia tidak mencintai kita lagi, tapi dia ingin punya anak dan merasa tidak bisa punya anak kalau tetap bersama kita. Apapun alasannya cinta yang tidak berbalas atau cinta yang tidak sampai selalu menyakitkan, apapun alasannya.
Persoalan hidup datang dari banyak sumber, tidak hanya restu orang tua. Dan kebahagiaan itu hanya sebentuk pikiran dengan motivasi positif. Hidup itu serangkaian pilihan dengan konsekuensinya. Kamu bisa saja terus melawan orang tua kamu dan bersama pasangan kamu, tapi konsekuensinya kalian akan terus mendapatkan perlawanan mereka. Cuma waktu yang akan membuktikan apakah sikap mereka yang akan melunak atau kalian yang menyerah dan saya yakin kedua belah pihak punya motivasi yang sama. Sama-sama ingin bahagia. Kalian berfikir akan bahagia kalau bersama-sama dan orang tua kalian berfikir akan bahagia kalau kalian bukan lesbian.
Nah sekarang pilihan kalian... Kalau kalian sudah mengupayakan segala cara untuk diterima sebagai lesbian dan pasangan dengan tetap mempertahankan hubungan kalian. Harusnya kalian sudah bahagia. Menghadapi sikap orang tua yang negatif adalah bagian dan konsekuensi pilihan. Kalau kalian bisa bersama tapi merasa tetap tidak bahagia karena gangguan orang tua kalian, then ada yang masih salah dengan pilihan kalian. Sikap penolakan juga harus jadi bagian penerimaan orientasi seksual kalian. Jika itu tidak selesai kebahagiaan juga akan terus tertunda.
Bagaimanapun kebanyakan orang tua punya harapan besar dengan anak-anaknya. Kebanyakan orang tua berfikir anak adalah investasi mereka dan simbol dari kebanggaan dan harga diri mereka. Karena itu mereka sangat berharap dan memacu anak2nya untuk "menjadi orang" dalam berbagai definisi. Sayang memang tidak ada pendidikan khusus untuk menjadi orang tua apalagi menjadi orang tua dari seorang anak yang homoseksual. Kita juga harus paham bahwa mereka harus belajar sesuatu. Mereka desperate dan tidak tahu harus berbuat apa.
Karena itu saya sering berusaha ngobrol dengan keluarga dan teman2 saya, hanya agar mereka bisa memahami saya lebih baik. Sehingga hubungan kita bisa lebih baik. Kebanyakan non homoseksual, sekalipun mereka bisa menerima, mereka sebenarnya ingin tahu tapi mereka enggan bertanya. Ada banyak kemungkinan: dari sungkan karena takut menyinggung, takut dianggap tertarik, sampai takut dianggap bodoh. Semuanya tidak menyenangkan. Jadi saran saya, pahami juga kekhawatiran atau bahkan ketakutan mereka. Buktikan dan jelaskan saja bahwa terkadang itu berlebihan, jikapun kekhawatiran atau ketakutan itu nyata, itu suatu kewajaran.
Ini proses panjang dan rumit. Tidak sedikit seorang homoseksual akhirnya memutuskan menjalani kehidupan menjadi heteroseksual dengan berfikir bahwa hal tersebut akan membuat segalanya lebih mudah. Sah-sah saja. Dari pengalamanku, menjadi diri sendiri adalah sumber kebahagian dan kedamaian hidup. Persoalan hidup selalu ada saja sampai kita mati, apapun orientasi seksual kita. Bagi saya membohongi diri sendiri atau membohongi orang lain jauh lebih sulit daripada hidup sebagai lesbian. Dalam keseharian orang lain lebih menghargai kepribadian dan prestasi kita yang baik dan tidak ada hubungannya orientasi seksual. Bukannya tidak ada yang mencoba mengkaitkannya juga, tapi bagi saya itu problem orang tersebut, bukan saya. Toh hidup terus berjalan, biasanya orang tersebut justru yang hidupnya problematik, bukan saya.
Terlampau banyak aspek kehidupan yang juga turut menjadi faktor yang dapat menyumbangkan kebahagiaan, prioritasnya berbeda-beda bagi setiap orang dan pada setiap jenjang usia. Pertimbangkan baik2 prioritas kamu, apa2 yang menjadikan hidup kamu lebih bahagia. Evaluasi dari waktu ke waktu. We can't win them all, but we should try our best and be happy with it. Kalau gagal yang dicoba lagi dengan cara yang lebih baik.
Banyak orang bilang saya beruntung, tapi saya pikir banyak hal yang juga akan tidak terjadi dalam hidup saya jika saya tidak memiliki keberanian untuk memutuskan. Tidak berarti saya selalu benar, tetapi karena dapat mempersiapkan diri saya dengan baik jika saya salah atau tidak berhasil.
Good Luck!
Bonnie
[
Next Thread |
Previous Thread |
Next Message |
Previous Message
] |
|