Alkisah ada seorang pemuda dusun yang tinggal dengan ayahnya. Pemuda
tersebut sangat pemarah sehingga ayahnya sering mendapat keluhan dan teguran dari warga.
Suatu hari sang ayah memanggil pemuda itu.
“ke marilah, nak. Ada yang ingin Ayah bicarakan denganmu.” Kata sang
ayah.
“ada apa ayah ?” jawab sang anak.
“ ayah sering mendapat keluhan dan teguran dari tetangga kita tentang tabiatmu yang sering menyakiti anak-anak mereka.” Sang ayah berkata dengan tenang.
Sang anak diam tak menjawab.
“ bila kau terus menerus berbuat demikian bagaimana dengan hidupmu kelak ?” sang ayah mencoba memberi nasehat.
“kau akan di kelilingi banyak
musuh dan tak seorangpun mau menjadi temanmu.”
“Tapi aku sudah minta maaf dan berbaikan kembali dengan mereka, ayah” sang anak membela diri.
“Begini saja, mulai sekarang,jika kau merasa sangat marah, tahanlah amarahmu itu. Kalu kau tidak bisa
menahan dan kau merasa harus mengeluarkan amarahmu itu,
ambillah palu dan sebuah paku lalu tancapkan paku itu
pada pagar rumah kita sebagai pelampiasan marahmu itu,” kata sang ayah,
“jadi kau tak perlu menyakiti hati orang lain. Lakukan sampai kau bisa
menahan amarahmu, kalau kau sudah bisa menahannya, bilang pada ayah.”
Lanjutnya.
“ya, ayah ” jawab sang anak dengan sedikit ragu, heran akan maksud
ucapan ayahnya tersebut.
Setelah beberapa minggu akhirnya sang anak berhasil menahan amarahnya.
“ayah, aku sudah bisa menahan marahku, jadi aku sudah tidak menancapkan
paku ke pagar rumah kita lagi “ kata sang anak dengan bangga.
“kalau begitu mulai sekarang setiap kau berhasil menahan amarahmu,
cabutlah satu buah paku dari pagar rumah kita” jawab sang ayah.
“ya, ayah” kata sang anak lagi. Dia makin bertambah bingung memikirkan
maksud perintah ayahnya.
Setelah beberapa minggu akhirnya semua paku yang dulu tertancap di
pagar rumah mereka telah habis dicabut oleh sang anak.
“ayah, aku telah mencabut habis semua paku yang dulu aku tancapkan pada
pagar rumah kita” sang anak melapor pada ayahnya.
“kamu pasti bingung kenapa ayah menyuruhmu menancapkan paku bila kau
marah, dan mencabutnya jika kau berhasil menahan marahmu, bukan ?” sang
ayah berkata.
“Iya ayah” jawab sang anak.
“lihatlah pagar rumah kita, penuh lubang bekas paku yang telah kau
tancapkan. Meskipun sudah kau cabut bersih semua pakunya, bekasnya tetaplah
masih ada dan tidak bisa hilang. Begitu pula dengan hati orang-orang
yang telah kau lukai dulu. “
“Mengerti kamu sekarang ?” kata sang ayah lagi.
[
Next Thread |
Previous Thread |
Next Message |
Previous Message
]