Show your support by donating any amount. (Note: We are still technically a for-profit company, so your
contribution is not tax-deductible.)
PayPal Acct:
Feedback:
Donate to VoyForums (PayPal):
| [ Login ] [ Contact Forum Admin ] [ Main index ] [ Post a new message ] [ Search | Check update time | Archives: [1], 2, 3, 4 ] |
| Subject: Pendapat Pakar tentang Goyang Inul [semua kudu baca, ok] | |
|
Author: Hadie Jakatirta |
[
Next Thread |
Previous Thread |
Next Message |
Previous Message
]
Date Posted: 22:18:55 06/17/03 Tue Inilah pendapat Prof. DR. Dr. Wimpie Pangkahila, Sp.And, FAACS, Guru Besar dan Ketua Pusat Studi Andrologi dan Seksologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana tentang Goyang Inul. Sumber : Kompas Cyber Media (KCM) ---------------------------------------------------------- Inul Porno? Hmm..., Tergantung Pria yang Menafsirkannya..! Jakarta, KCM • Tidak mudah menentukan apakah suatu benda, gambar, tayangan tergolong porno atau tidak. Sebagai contoh, apakah suatu patung penis tergolong porno? Di beberapa candi, dengan mudah kita jumpai patung penis dan bentukan kelamin luar wanita (labia). Apakah ini porno dan harus dilarang? Kalau tergolong porno dan harus dilarang, berarti kita melarang budaya kita dalam bentuk relief di candi itu. Ada pula relief pria memegang payudara wanita, apakah ini tergolong porno sehingga harus dibongkar? Maka diperlukan kriteria yang jelas, jangan hanya berdasarkan anggapan atau perasaan orang per orang, apalagi yang wawasannya sangat sempit dan munafik. Apalagi kalau di belakangnya ada tendensi politik tertentu. Porno aksi juga demikian. Yang mana tergolong porno aksi? Apakah para Pekerja Seks Komersial (PSK) tergolong pelaku porno aksi? Kalau ya, bagaimana dengan pria yang mencari PSK? Seharusnya pria pencari PSK juga tergolong pelaku porno aksi. Demikian antara lain pandangan Prof. DR. Dr. Wimpie Pangkahila, Sp.And, FAACS, Guru Besar dan Ketua Pusat Studi Andrologi dan Seksologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, ketika diminta pendapatnya soal tuduhan porno aksi terhadap penyanyi yang mengawali karirnya dengan berkeliling kampung di daerah Pasuruan Jawa Timur itu. “Goyang Inul saya pikir bukan apa-apa,“ tukas Wimpie. Goyang Inul, adalah suatu olahraga yang memerlukan stamina tinggi, apalagi dilakukan sambil bernyanyi. Apakah itu porno sehingga dapat membangkitkan dorongan seksual pria? Semuanya tergantung pria yang melihat dan menafsirkan. Kalau pikiran si pria itu selalu ke rangsangan seksual, bisa jadi mereka terangsang. Tetapi kalau pikirannya tidak ke rangsangan seksual, mereka tidak akan terangsang. Artinya kembali ke pikiran masing-masing orang. “Bukankah reaksi seksual dipengaruhi oleh faktor fisik dan faktor psikik?” tegasnya. Goyangan Inul, menurut pria yang memperdalam ilmu andrologi dan seksologi di University of Washington, USA ini, adalah goyangan budaya Indonesia, karena kita bisa menjumpai di mana-mana kesenian rakyat dengan goyangan seperti itu, walaupun tidak persis seperti goyangan Inul. Lihat saja jaipongan di Jabar, joged di Bali, dan banyak lagi di daerah lain. “Jadi wajar kalau banyak penyanyi yang bergoyang begitu, karena budaya masyarakat memang seperti itu.” Di Indonesia, sebenarnya telah terjadi perubahan pandangan dan perilaku seksual sejak tahun 1980. Seks telah dianggap sebagai sesuatu yang tidak sakral, tidak seperti dulu lagi. Salah satu penyebabnya ialah sejak kontrasepsi dimasyarakatkan, seks tidak selalu identik dengan tujuan prokreasi (menghasilkan keturunan) yang merupakan anugerah Tuhan. Bahkan seks lebih untuk tujuan rekreasi (kesenangan). Tetapi sayangnya pengetahuan seksual masyarakat sangat rendah, karena banyak menerima dari sumber yang tidak benar. Dikatakan Wimpie, nama Inul meledak bukan karena suaranya yang khas sebagai penyanyi, melainkan karena goyangan bokongnya yang dilukiskan seperti gerakan mengebor. Gerakan itulah yang kemudian mengundang berbagai komentar, mulai dari yang negatif, positif, sampai komentar yang lucu. Komentar negatif muncul karena gerakan bokong Inul dianggap sebagai gerakan erotik atau porno yang diasosiasikan dengan hubungan seksual. Sebaliknya komentar positif muncul bila orang menganggap gerakan itu sebagai suatu ekspresi seni atau sebagai suatu bentuk latihan fisik yang luar biasa kuat. “Komentar lucu seolah-olah ingin menyatakan tidak ada gunanya membicarakan bokong yang bergoyang-goyang itu. Komentar lain Inul dipanggil Presiden untuk diangkat sebagai Menteri Pertambangan gara-gara gerakan mengebornya,” sebutnya. Apapun komentar masyarakat, Inul –yang oleh sebuah media luar negeri dijuluki sebagai “Eminem-nya Indonesia”, digemari sangat banyak orang. Penghasilannya yang sekitar Rp.600-700 juta sebulan -- sesuai pengakuannya di salah satu stasiun televisi-- menunjukkan betapa banyak masyakarat yang menggemari goyangannya. Kenyataan menunjukkan masyarakat tidak peduli dengan komentar negatif tentang bokong si Inul. Padahal kata pengamat bokong Inul, goyangan bokongnya kadang-kadang asal goyang, tidak harmonis dengan irama musik yang mengiringi Reaksi Terhadap Kemunafikan! • “Mengapa si Inul dihujat? Seolah-olah Inul adalah pendosa besar melebihi para pejabat korup yang tidak bermoral itu. Seolah-olah setelah menyaksikan goyangan bokongnya orang lalu terangsang dan menjadi pemerkosa atau pezinah. Alangkah munafiknya..,” cetus Wimpie. Ditegaskannya, keributan terhadap Inul hanyalah sebuah reaksi pengulangan sikap munafik. Acapkali kita menyaksikan reaksi negatif muncul terhadap sesuatu yang dianggap tidak sesuai dengan budaya kita. Padahal kita lupa bahwa budaya kita memang seperti itu. “Ketika AIDS mulai dikenal di negeri ini, ada pejabat tinggi yang menyatakan bahwa AIDS tidak akan meluas di Indonesia karena "budaya kita tidak mengenal seks bebas". Pernyataan ini sungguh merupakan reaksi yang munafik, seolah-olah kita bangsa yang paling "suci". Padahal kompleks prostitusi yang terbesar di Asia Tenggara ada di republik ini.“ Ingatan Wimpie Pangkahila, kembali melayang pada tahun 1981. Ketika itu ia menyampaikan hasil survei mengenai "Pandangan dan Perilaku Seksual Remaja", yang kemudian diberitakan oleh semua media massa, banyak reaksi yang menolak, khususnya dari kalangan penguasa. Seakan-akan kita adalah bangsa yang kudus, yang tidak mungkin melakukan aktivitas atau hubungan seksual pranikah. Padahal kemudian ternyata angka kejadian aborsi pranikah sangat tinggi di negara ini, bahkan mungkin lebih tinggi daripada di beberapa negara yang dikenal liberal, yang sering kita kecam sebagai tidak bermoral. Sebenarnya, menurut Sekjen ASI (Asosiasi Seksologi Indonesia) itu, banyak hal lain yang jauh lebih besar dan penting yang perlu kita bicarakan dan ributkan daripada sekadar membicarakan bokong si Inul. “Mengapa kita tidak ributkan kompleks prostitusi terbesar itu? Mengapa kita tidak ributkan para pria yang gemar mengunjungi lokasi prostitusi itu, lalu menulari istrinya dengan penyakit? Mengapa kita tidak ributkan para pria yang berlagak menjadi suami yang baik, padahal mempunyai banyak istri dan wanita simpanan?” gugatnya. “Mengapa kita tidak marah ketika banyak TKW kita diperkosa dan mengalami pelecehan seksual lainnya di luar negeri? Mengapa kita tidak ributkan korupsi yang sudah membudaya dan merusak moral generasi muda? Mengapa kita tidak ributkan pelaku tindak kekerasan terhadap kelompok atau orang lain? Mengapa kita tidak sebaiknya membantu polisi melenyapkan tindakan teror yang terjadi di masyarakat? Mengapa kita tidak ributkan para anggota DPR yang menghabiskan uang negara dengan dalih studi banding keluar negeri tanpa hasil? Dan sederet mengapa lainnya yang jauh lebih berbahaya daripada bokong si Inul yang kuat dan tak bersalah itu.” Demam Inul, menurut salah seorang penulis “The International Encyclopedia of Sexuality” yang diterbitkan di Amerika Serikat, dan “Traum der Freiheit” yang diterbitkan di Jerman ini, tidak akan dapat diredakan dengan kecaman atau larangan begitu saja. Sebab, demam Inul muncul dari masyarakat akar rumput karena dari situlah dia berasal. Dengan kata lain yang lebih keren, itulah aspirasi masyarakat kita. Karena itu goyangan Inul telah dan akan terus mewabah di banyak tempat di negara ini, bahkan akan sampai ke semakin banyak desa. Menurut pendapat Wimpie, demam Inul adalah sebuah pemberontakan terhadap kemunafikan. Demam Inul adalah bentuk ketidakpedulian terhadap larangan dari siapapun. Andaikata Inul sampai terpaksa menghentikan goyangannya karena mendapat tekanan dari pihak tertentu dengan alasan apapun, itu bukan berarti atraksi goyangan bokong akan berhenti total. “Saya berani pastikan tidak akan berhenti. Inul mungkin berhenti muncul dengan goyangannya di depan publik, mungkin karena merasa risih dianggap bersalah. Mungkin juga dia merasa malu dibicarakan orang banyak terus, atau karena kemungkinan lainnya. Tetapi inul-inul yang lain akan tetap beraksi, bahkan semakin gencar muncul. Artinya goyangan bokong begitu akan tetap ada karena memang bukan Inul pelopornya,” tandas Wimpie. (zrp) [ Next Thread | Previous Thread | Next Message | Previous Message ] |
| Subject | Author | Date |
| SETUJU BANGET!!!!! | big_black_lab | 12:56:51 06/20/03 Fri |
| Re: Pendapat Pakar tentang Goyang Inul [semua kudu baca, ok] | Goyang Lover | 10:27:24 04/16/04 Fri |
| PEKERJA DIKEHENDAKI | CHE ZAHARI SENIK (URGENT) | 05:46:06 04/17/10 Sat |
|
Forum timezone: GMT-8 VF Version: 3.00b, ConfDB: Before posting please read our privacy policy. VoyForums(tm) is a Free Service from Voyager Info-Systems. Copyright © 1998-2019 Voyager Info-Systems. All Rights Reserved. |