Show your support by donating any amount. (Note: We are still technically a for-profit company, so your
contribution is not tax-deductible.)
PayPal Acct:
Feedback:
Donate to VoyForums (PayPal):
| [ Login ] [ Contact Forum Admin ] [ Main index ] [ Post a new message ] [ Search | Check update time | Archives: 1, 2, 3, [4] ] |
| Subject: Re: rhoma irama dan inul | |
|
Author: anti-munafix |
[
Next Thread |
Previous Thread |
Next Message |
Previous Message
]
Date Posted: 11:22:39 04/29/03 Tue In reply to: faruk 's message, "rhoma irama dan inul" on 07:13:21 04/28/03 Mon ngga usah panjang2 mas yang penting ngebor terusssssssssss >KAMI TAK BERHENTI BEGADANG >(Refleksi tentang Jalan Dangdut) > >faruk > >Bisakah dangdut menjadi musik bergengsi, apalagi >penjaga gawang moralitas? Bisa iya, bisa tidak. Tentu >saja jawabannya begitu. Semuanya tergantung pada apa >yang dimaksud gengsi, apa pula yang dimaksud moralitas >itu. Tambahan lagi, semuanya juga tergantung siapa >yang memberi makna terhadapnya. > Fakta menunjukkan bahwa dangdut adalah musik yang >digemari oleh kelompok masyarakat marginal atau yang >termarginalkan, baik secara ekonomis maupun secara >geografis. Dari segi ekonomis, dangdut merupakan musik >yang digemari oleh masyarakat dengan tingkat ekonomi >yang rendah, misalnya para buruh di perkotaan. Dari >segi geografis, ia merupakan musik yang hidup dan >dihidupi oleh kelompok masyarakat yang ada di >pinggiran, baik pnggiran kota, pedesaan Jawa, pesisir, >ataupun luar Jawa yang menjadi pusat kekuasaan >ekonomi, politik, dan bahkan kultural masyarakat >Indonesia. >Dengan dua pengertian demikian, dangdut dapat >dipastikan merupakan musik yang hidup dan dihidupi >oleh mayoritas penduduk Indonesia yang ada dalam >struktur masyarakat yang tersusun secara hierarkis >dalam bentuk piramida dengan lapisan terbawah sebagai >lapisan yang terbesar. Sebagai musik lapisan bawah >masyarakat, perkembangannya tentu saja juga mengikuti >perkembangan yang terjadi pada masyarakat lapisan >tersebut. Perkembangan itu, antara lain, menyangkut >perkembangan daya beli masyarakat yang bersangkutan. >Ketika saya masih kecil, duduk di sekolah dasar di >Banjarmasin, Kalimantan Selatan, di akhir tahun >1960-an, seingat saya apa yang disebut musik dangdut >belum ada. Yang ada adalah musik Melayu. Di daerah >asal saya itu Musik Melayu ini hidup dan tersebar >melalui pertunjukan-pertunjukan keliling yang dikenal >dengan rombongan Orkes Melayu. Repertoirnya sebagian >besar diambil dari lagu-lagu Melayu Deli dan Malaysia >akhir-akhir ini mulai muncul lagi, misalnya “Bunga >Nirwana” dan “Sabda Pujangga”. >Karena saya masih kecil waktu itu, musik Melayu saya >rasakan sebagai musik orang-orang tua atau setengah >tua (paman saya seorang penyanyi yang tergabung dalam >sebuah Orkes Melayu). Adapun yang termasuk dalam musik >anak muda adalah musik pop yang diledakkan oleh antara >lain Koes Plus dan kemudian disusul oleh The Mercy’s, >Pambers, dan sebagainya, yang selanjutnya diikuti pula >oleh munculnya kelompok band yang membawakan musik >rock, yang antara lain mengangkat nama Giant Step atau >Godbless dengan Achmad Albarnya, AKA dengan Ucok >Harahapnya, dan Rollies dengan Gitonya. >Musik Melayu dapat dikatakan tenggelam waktu itu. Baru >di tahun 1970-an awal, dengan kemunculan Rhoma Irama >yang mengkombinasikan musik Melayu dengan musik pop >dan rock, musik Melayu tersebut mulai memperoleh >penggemar di kalangan anak muda. Namun, namanya segera >berubah dari musik Melayu menjadi musik dangdut, >meskipun jejak Melayunya tidak sepenuhnya hilang, baik >dari segi iramanya, temanya, maupun penampilannya. >Kelompok band Rhoma Irama sendiri, waktu itu, >menamakan dirinya masih sebagai orkes Melayu, yaitu >Orkes Melayu Sonata. >Tapi, kehadiran Rhoma di atas sama sekali tidak >membuat musik dangdut menjadi terangkat ke lapisan >atas masyarakat. Yang berhasil dilakukannya lebih >merupakan revitalisasi dan reaktualisasi musik masa >lalu itu ke masa kini. Tapi, dengan hidup kembalinya >musik Melayu di atas, ia justru kemudian menegaskan >stratifikasi sosial yang menajam di dalam masyarakat >sebagai akibat perkembangan teknologi informasi dan >ekonomi Orde Baru. Kalau sebelumnya masyarakat lapisan >bawah yang terbentuk sebagai akibat kebijakan ekonomi >dan informasi Orde Baru seakan tidak mempunyai >“corong”, sarana kultural dan musikal untuk >aktualisasi dan identifikasi diri, dengan Rhoma Irama, >mereka memperoleh hal tersebut. Dengan demikian, jasa >besar Rhoma terletak bukan pada mengangkat musik >dangdut ke strata sosial yang lebih tinggi, melainkan >menghidupkan dan mereaktualisasikan kembali musik >Melayu dan memberikan sarana ekspresi dan identifikasi >diri pada masyarakat lapisan bawah. >Waktu saya kecil, saya tinggal di lingkungan yang >relatif elite. Di sekitar rumah saya terdapat beberapa >keluarga kaya yang mendirikan radio amatir dan di >sekitar radio amatir itu terbentuk kelompok pergaulan >anak muda yang menjadi penggemar musik pop dan rock, >tidak hanya yang berasal dari Indonesia, melainkan >juga dari luar negeri yang waktu itu juga sangat >terkenal seperti The Beatles, The Purple, Grand Funk, >dan sebagainya. Namun, saya tidak dapat merasa >menjadi bagian dari mereka dan juga merasa ditolak >oleh mereka. Karena itu, saya harus pergi ke tempat >yang agak jauh dari rumah, ke lingkungan pergaulan >yang sederajat dengan saya, yang menggemari lagu-lagu >dangdut dan Melayu. Dengan mereka yang berasal dari >lingkungan itulah saya setiap malam menyanyi dangdut >sambil berjoget di pinggir jalan, mengunjungi di mana >saja pergelaran musik dangdut diadakan, dan kalau >dapat kesempatan memberikan sumbangan lagu dalam >pertunjukan. > >*** > Yang ingin saya katakan adalah bahwa dangdut adalah >lagu masyarakat lapisan bawah dan tidak akan pernah >serta bahkan sebaiknya tidak menjadi lagu lapisan atas >masyarakat, lagu kelompok elite. Memang, seperti >halnya Sri Mulat, lagu dangdut mulai mendapat ruang >yang semakin luas dan bahkan terluas di televisi, >sesuatu yang sebelumnya menjadi wilayah musik pop atau >musik masyarakat dari lapisan yang lebih tinggi. >Namun, kecenderungan itu lebih disebabkan oleh >perkembangan daya beli masyarakat lapisan bawah itu >sendiri bersama dengan perkembangan teknologi media >massa yang menayangkannya. Ia dapat dipastikan sama >sekali bukan akibat dari perkembangan cara >penyajiannya, termasuk substansi musikal dan liriknya. > Perkembangan teknologi informasi telah memungkinkan >dihasilkannya produk-produk rekaman musik yang semakin >murah dalam jumlah yang semakin besar dan dengan >tingkat penyebaran yang semakin cepat dan luas dan >karenanya semakin terjangkau oleh masyarakat lapisan >bawah. Dengan perkembangan ini masyarakat lapisan >bawah itu menjadi pangsa pasar media dan iklan yang >sangat besar pula. Iklan sendiri berhubungan dengan >perkembangan industri di Indonesia. Semakin banyak dan >beraneka komoditas yang ditujukan pada masyarakat >lapisan bawah, semakin besar kepentingan industri >untuk menjangkau masyarakat tersebut melalui media >massa, terutama televisi. Dalam hubungan dengan iklan >ini dapat pula dibuktikan bahwa betapa besar pun ruang >yang tersedia di televisi untuk dangdut, ia tetap >dipahami sebagai musik masyarakat lapisan bawah dan >ditujukan pada masyarakat lapisan tersebut. >Iklan-iklan untuk musik dangdut adalah iklan-iklan >bagi produk-produk yang menjadi konsumsi khas >masyarakat lapisan itu, misalnya obat kuat yang sangat >penting bagi buruh yang telah bekerja keras secara >fisik, obat kemampuan seks, obat sakit kepala atau >penghilang penghilang rasa sakit lainnya, dan >sejenisnya. Tidak akan ada iklan mobil mewah atau >pakaian dan kosmetika mahal dipasang untuk menjadi >sponsor musik dangdut. > Ike Nurjanah dan Iis Dahlia mungkin dua di antara >sedikit penyanyi dangdut yang tampil berbeda, yang >mengutamakan keindahan dan keanggunan daripada >kekuatan dan seks, dalam menyanyi dangdut. Tapi, hal >itu tidak akan dapat mengubah musik dangdut menjadi >musik elitis. Keanggunan dan keindahan Ike Nurjanah >sebenarnya sama saja dengan keindahan dan keanggunan >ungkapan perasaan yang halus yang muncul di banyak >lagu dangdut. Tapi, kehalusan ungkapan perasaan dalam >lirik itu tidak pernah menghapuskan irama dangdut >sendiri, yaitu irama yang mengajak bergoyang ala film >India, yaitu goyang yang berpusat di pinggul dan >pinggang serta dada. Dangdut bukan musik yang mengajak >orang berkontemplasi secara spiritual, melainkan >mengajak orang bergerak dan bertindak secara fisik >sebagaimana kehidupan sehari-hari masyarakat lapisan >bawah. > Banyak pujian yang diberikan kepada Elvi Sukaesih >dalam hal ketepatannya menyesuaikan gerak dengan irama >dan tema lirik musik. Namun, sewaktu di kampung saya >mulai ada televisi, TVRI waktu itu, ibu saya pernah >jengkel sekali kepada Bapak saya karena ia memelototi >Elvie Sukaesih di layar televisi. Tidak ada persoalan >keselarasan irama atau apa pun namanya bagi penonton >ketika mereka menonton atau mendengarkan musik >dangdut. Yang ada adalah citra tubuh yang menonjol, >citra kekuatan fisik dan seksual. Karena, pada hal >itulah kehidupan masyarakat bawah bersandar. > Rhoma Irama dikenal sebagai penyanyi dan pengarang >lagu dangdut yang berhasil menyisipkan pesan-pesan >moral dalam lagunya. Apakah hal itu berarti dapat >mengangkat musik dangdut keluar dari “comberan”? Tidak >juga. Pertama, musik dengan ajaran moralitas yang >eksplisit sendiri merupakan musik yang khas masyarakat >lapisan bawah, bukan masyarakat lapisan atas yang >cenderung abstrak, kosmopolit, dengan pandangan >mengenai moralitas yang kompleks dan ambigu, dan >dengan penanaman kemampuan intelektual yang tinggi dan >kehalusan perasaan dalam menangkap apa yang tersirat, >bukan tersurat. Karena itu, penempatan ajaran moral >yang eksplisit seperti yang dilakukan Rhoma Irama >hanya menegaskan bahwa dangdut memang musik lapisan >bawah masyarakat, musik yang ia sebut sebagai >“comberan”. >Kedua, masyarakat lapisan bawah punya cara dan >kepentingan sendiri dalam menikmati dan menghayati >musik dangdut, antara lain dengan menempatkannya >sebagai alat identifikasi dan ekspresi diri mereka >sendiri sebagai kelompok masyarakat yang berbeda dari >yang lain. Sebagai kelompok masyarakat yang hidup >dalam sistem stratifikasi sosial dan ekonomi yang >sangat tajam dan menajam, menjadi tidak masuk akal >bagi mereka untuk dapat merasa bersatu dengan kelompok >sosial ekonomi yang ada di lapisan atas, yang ada di >atas “comberan”. Dalam sistem stratifikasi yang >demikian, yang bisa mereka lakukan adalah bagaimana >bisa hidup betah di comberan saja, bukan melakukan hal >yang mustahil dengan keluar dari comberan itu. Salah >satunya, dengan membalikkan makna comberan itu menjadi >sesuatu yang lebih berharga. >Pada waktu saya remaja, salah satu lagu yang kami >gemari dan nyaris menjadi lagu wajib adalah Begadang. >Meskipun lagu itu mengajarkan agar orang jangan >begadang kalau tidak perlu, jangan begadang karena hal >itu dapat merusak badan, kami tidak pernah tergelitik >untuk berhenti begadang atau hanya begadang kalau ada >perlunya. Saya pribadi, sebagai bagian dari masyarakat >penggemar dangdut, merasakan bahwa justru dengan tetap >begadang tanpa ada perlunya kami menegaskan identitas >kami, menjadi bangga pada diri kami. Lagu itu, dengan >demikian, kami gemari bukan sebagai petuah yang harus >diikuti, melainkan petuah yang harus dilanggar. Adanya >petuah itu, bagi kami, hanya menegaskan bahwa kami >jalan kami memang lain dari mereka yang “begadang >kalau ada perlunya”. >Saya kira, begitu juga dengan “comberan”. Justru >dengan tetap berada di “comberan”, kami merasa bahwa >kami lain dari mereka, dan bahkan kami mampu dan >berani hidup dalam lingkungan yang mereka justru tidak >bisa dan tidak berani melakukannya. “Comberan” sama >sekali bukan hal yang menjijikkan dan hina bagi kami, >melainkan sesuatu yang membanggakan. Begitupun dangdut >dengan goyangnya, dengan citra kekuatan fisik dan >seksnya. Bukankah banyak kelompok elit, kaum eksekutif >dan kaya, yang kabarnya impotent? Bagi masyarakat >lapisan bawah, kekuatan fisik dan seks, merupakan >sesuatu yang membanggakan karena hanya itulah yang >mereka miliki. Kalau hal itu dihilangkan dari dangdut, >dangdut ditarik keluar dari comberan, masyarakat >lapisan bawah tidak hanya kehilangan musik, tapi juga >kehilangan identitas dan sekaligus eksistensi serta >kebanggaan mereka. >Bersatulah penggemar dangdut Indonesia. [ Next Thread | Previous Thread | Next Message | Previous Message ] |
| Subject | Author | Date |
| Ho'oh | SparkleBlink | 15:17:04 04/29/03 Tue |
|
Forum timezone: GMT-8 VF Version: 3.00b, ConfDB: Before posting please read our privacy policy. VoyForums(tm) is a Free Service from Voyager Info-Systems. Copyright © 1998-2019 Voyager Info-Systems. All Rights Reserved. |