| Subject: Matahari di dalam diri |
Author:
wandering spirit
|
[
Next Thread |
Previous Thread |
Next Message |
Previous Message
]
Date Posted: 00:37:29 01/05/04 Mon
baru dapet email dari temen, tentang sebuah tulisan dari Gede Prama.
Matahari di dalam diri
Hidup penuh jejak kaki. Demikian sejarah pernah bertutur pada manusia. Sayangnya, logika dan kata-kata manusia, tidak dan tidak akan pernah bisa memotret jejak2 kaki tadi sebagaimana adanya. Logika dan kata2, di satu sisi memang jembatannya pamahaman, di lain sisi dia juga suka memperkosa. Karena pemerkosaan jenis terakhir inilah,kemudian pengetahuan manusia manapun menjadi tidak sempurna. Di tangan manusia2 yang digiring kepintaran, ketidaksempurnaan terakhir kemudian menjadi bahan wacana. Ada juga yang membuatnya menjadi sarana tawar menawar kepentingan, alat untuk melakukan penyerangan, bahan-bahan untuk memamerkan kehebatan. Ada yang bertanya, bukankah ini hanya bunga2 kehidupan yang membuat semuanya jadi kaya warna?
Di tangan manusia2 bijaksana, nasib ketidaksempurnaan pengetahuan manusia lain lagi. Bagi mereka, ketidaksempurnaan ada untuk mengajarkan kesempurnaan pada manusia. Ada juga yang menyebutkan, kalau hidup ditujukan justru untuk melengkapi sisi2 pemahaman yang belum sempurna. Bagi pejalan2 kaki di jalan jiwa lain lagi. Ketidaksempurnaan ada untuk menjadi lahan2 latihan jiwa. Bukankah setelah tertabrak berbagai karang kehidupan, jatuh dalam banyak jurang kehidupan, kemudian jiwa bisa pulang dengan tenang?
Ah entahlah, pejalan2 kaki di jalan kejernihan memang hanya boleh bertanya. Jawaban memang senantiasa diserahkan kepada mereka yang mendengar ketika pertanyaan dilontarkan. Tidak semua suka tentu saja. Dan itupun tidak apa2. Yang jelas, apapun pertanyaannya, apapun jawabannya, siapapun yang bertanya, siapapun yang menjawab, ada sebuah gejala yang terus menerus berjalan : waktu! Seperti jarum jam di dinding, berjalan, berjalan, dan berjalan. Kadang ia berhenti karena batterynya mati, cuman waktu yang ia wakilkan tidak membutuhkan battery atau tenaga manapun. Ia adalah tenaga itu sendiri, ia adlah gerakan itu sendiri, ia adalah hidup itu sendiri.
Sebagai manusia biasa, kita kerap baru tersadar, kadang malah terkejut, ketika melihat putera-puteri di rumah sudah besar. Tatkala merasakan badan tidak lagi sekuat dulu. Manakala melihat orang2 muda yang dipanggil yang kuasa. Logika dan kata2 manusia pun memberikan judul : tua. Dan judul terakhir pun tidak sama pemahamannya. Ada yang mengkaitkannya dengan badan yang berbau tanah. Ada yang menyebutnya dengan masa2 panen dalam hidup. Ada juga yang meletakkannya dengan waktu membalas dendam perhatian ke anak cucu.
Dan tentu saja, terserah sepenuhnya pada pribadi masing2. Yang jelas, ada yang mengkaitkan umur tua dengan pelambang alam yang bernama matahari. Bagi yang melihat beban kehidupan sebagai serangkaian hal yang memberatkan, tua adalah tanda2 matahari mau tenggelam. Bagi sahabat, yang melihat beban sebagai vitamin2 yang memperkuat, tua adalah awal terbitnya matahari di dalam diri. Ada yang bertanya, matahari apa yang terbit di dalam diri?
Inilah keterbatasan pemahaman melalui kata2 dan logika.
Pertama, semua hal ditanyakan dan mau dipahami lebih dahulu, baru kemudian bergerak dan berjalan untuk menggali. Seolah2 tanpa bertanya dan paham manusia akan masuk jurang. Kedua, setiap pencaharian yang boros logika dan kata2, membuat pencaharian berjalan keluar. Kemudian mengabaikan sumur tanpa dasar yang ada di dalam. Ketiga, begitu sebuah pemahaman terpetakan oleh logika dan kata2, manusia terpental jauh dari dirinya sendiri.
Diterangi cahaya pemahaman seperti ini, ada seorang sahabat pernah berbisik. Kadang, ada saatnya perjalanan pemahaman mirip dengan seorang anak yang baru bisa belajar bicara, kemudian bertanya pada mamanya: mana papa? Dan begitu telunjuk mama menunjuk seorang lelaki, setiap bayi langsung mempercayainya. Dan seumur hidup menyebut lelaki tadi dengan sebutan papa. Jarang sekali terjadi? atau mungkin malah tidak pernah? begitu mamanya menunjuk seorang lelaki, kemudian anak bertanya ulang: itu papa atau teman selingkuh?
Bagi sahabat yang diperkuda kepintaran, mungkin cara seperti ini disebut dengan kebodohan atau ketololan. Cuman pada kehidupan manapun yang menyelami lapisan2 keikhlasan secara mengagumkan, dan kemudian berpelukan dengan kehidupan secara penuh penerimaan, inilah awal terbitnya matahri di dalam diri. Tidak ada pertanyaan di sana, apalagi penolakan. Sebutan pintar dan hebat tidak lagi menggoda. Kaya dan terkemuka juga serupa. Dikasih terimakasih, tidak dikasih juga terima kasih. Seorang pejalan kaki di jalan ini pernah berucap, ketika penafsiran kita tentang semesta berhenti, kejernihan yang mendalam jadi terbuka. Kejernihan itu meliputi segala waktu, tempat dan perubahan.
Pejalan kaki yang lain berucap pelan, pelepasan adlah jantung kehidupan. Tatkala manusia sudah terlepas dari harapan, pendapat, dan apalagi ketakutan, ia memasuki wilayah2 kebebasan yang berkelimpahan. Dalam bahasa lain, ada yang berbisik, seluruh hidup adalah proses pelepasan. Ketika manusia mengalami pelepasan, bukankah muncul great sun of wisdom dari dalam dirinya? Ada juga yang ragu2 dan bertanya, apa yang tersisa dalam kehidupan pasca pelepasan?
Yang tersisa di sana hanya satu: kerja, kerja, dan kerja. Bedanya dengan kerja orang kebanyakan, bukankah kerja adlah bentuk cinta yang paling nyata? Bukankah melalui kerja Tuhan menjadi nyata? Selamat tahun baru 2004! *****
[
Next Thread |
Previous Thread |
Next Message |
Previous Message
]
| |