VoyForums
[ Show ]
Support VoyForums
[ Shrink ]
VoyForums Announcement: Programming and providing support for this service has been a labor of love since 1997. We are one of the few services online who values our users' privacy, and have never sold your information. We have even fought hard to defend your privacy in legal cases; however, we've done it with almost no financial support -- paying out of pocket to continue providing the service. Due to the issues imposed on us by advertisers, we also stopped hosting most ads on the forums many years ago. We hope you appreciate our efforts.

Show your support by donating any amount. (Note: We are still technically a for-profit company, so your contribution is not tax-deductible.) PayPal Acct: Feedback:

Donate to VoyForums (PayPal):

Login ] [ Contact Forum Admin ] [ Main index ] [ Post a new message ] [ Search | Check update time | Archives: [1] ]


[ Next Thread | Previous Thread | Next Message | Previous Message ]

Date Posted: 11:22:08 11/19/03 Wed
Author: Adinda dan Maru
Subject: Kesunyian Hati Sita - Novel Bab III

BAB III

Luna pergi jogging bersama teman-teman sekolahnya, mereka pergi ketepi pantai yang telah dirubah menjadi kawasan elit dipemukiman mereka. Setiap pagi diadakan senam pagi bersama aerobics secara terbuka untuk ajang promosi real estate tersebut. Pada waktu-waktu libur, suasana disana selalu ramai dan menjadi pusat yang dikunjungi oleh masyarakat sekitar seolah mereka mendapatkan tempat rekreasi baru.

“Get into the groove”-nya madonna terdengar cukup keras sebagai music pengiring aerobics yang dipandu oleh seorang artis terkenal diatas podium. Luna dan teman-temannya menonton orang-orang yang turut bersenam-ria. Sesekali mereka tertawa terpingkal-pingkal menyaksikan beberapa orang yang kaku dalam mengikuti gerakan senam tersebut.

Pada hari liburan sekolah, Luna tetap melakukan lari pagi bersama teman-temannya, namun pada setiap hari kerja, acara senam itu tidak ada. Sehingga ia bersama teman-temannya hanya duduk di geladak bermain air disana.

Namun setiap ia pergi ke sana ada yang menarik perhatiannya, seoarang gadis seusianya, yang terlihat dengan celana pendek, kaus dan keds, sedang duduk termenung di pagar bebatuan yang membatasi laut dengan daratan. Masih dalam keheranan Luna, gadis ini meski dia terus memperhatikannya, tidak pernah terlihat sekalipun menoleh kepadanya. Dan setelah beberapa lama termenung menghadap laut, gadis itu kemudian berjalan pulang, tanpa menoleh kemana-mana. Luna mengetahui, rumah gadis itu adalah dijalan yang selalu ia lewati saat kesekolah, jalan jalan pagi, dan semakin sering ia memperhatikan, semakin besar rasa ingin tahunya tntang gadis itu.

Suatu hari saat ia menuntun sepedanya untuk berangkat kesekolah, ia sengaja berjalan lebih lambat ketika sebuah mobil hardtop keluar dari rumah gadis itu, didalamnya ada seorang bapak tua yang mungkin adalah supir ayahnya dan disampingnya adalah gadis itu untuk diantar kesekolah. Baru kali ini, mereka saling menatap lekat satu sama lain, lekat. Namun Luna merasakan tatapan yang kosong sedang menatapnya. Dan gadis itu kemudian membuang pandangannya. Betapa apatisnya gadis itu, pikirnya.

Hari-hari besoknya, mereka kerap bertemu dan saling menatap, tanpa bertegur sapa, dan beberapa kali Luna mendapatkan gadis itu berdiri dipagar rumahnya, memperhatikan Luna melintas. Namun gadis itu hanya diam dan tanpa senyum. Dan pada saat liburan sekolah, mereka kembali bertemu di geladak saat lari pagi. Tapi setiap kali bertemu digeladak, gadis itu tidak pernah menoleh kepadanya. Penasaran Luna terhadap gadis itu, entah mengapa.

Pada suatu hari, ia melihat kembali gadis itu namun kali ini di ujung geladak, datang lebih dahulu dari rombongannya. Seperti biasa, duduk terdiam. Luna bersenda gurau dengan teman-temannya, tetap saja gadis itu tidak menoleh kepadanya. Akhirnya ia pun menghampiri dan duduk disebelahnya. Gadis itu terkejut, seakan lamunannya terganggu.

“hi “ sapa Luna, dan gadis itu hanya tersenyum, manis senyumnya ikir Luna. “Kamu kayaknya selalu sendiri ya”. Gadis itu hanya tersenyum menoleh kepadanya dan menunduk memperhatikan ikan-ikan kecil melintas. “Nama saya Luna” Luna kemudian menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan. Dan gadis itu menyambutnya, “Sita” ujar gadis itu pendek. “kamu kalo lagi diem gitu mikir apa sih ?” tanyanya. Yang ditanya menoleh kaget, karena merasa selama ini diperhatikan, lalu tersenyum “macam-macam, apa aja yang bisa dipikirin” jawabnya asal. “kenalan yuk sama teman-temanku” ajak Luna. Sita menoleh ke arah teman-teman Luna, lalu menatap Luna kembali dan mengangguk. Mereka berdua pun bangkit menghampiri. Sejak saat itu, mereka selalu jogging bersama. Sebetulnya Sita merasa kesendiriannya terganggu, tapi ia tidak pernah menolak ajakan Luna yang periang dan lucu. Dan Sita hanya menurut saja.

Suatu siang, saat sepulang sekolah yang cukup melelahkan, setelah makan siang, ia tertidur, tanpa menutup pintu kamarnya, dan memang kamar Sita terletak di paviliun rumah. Angin semilir yang masuk dari pintu membuatnya terbuai dan jatuh tertidur di tempat tidurnya. Tiba-tiba saat ia sedang terlelap, tiba-tiba ada bunyi-bunyian yang mengganggu tidurnya, dan ia berbalik kearah pintu untuk mengatahui ada apa gerangan. Dan samar-samar ia melihat Luna sudah duduk di sofa samping tempat tidur, mengayunkan sebuah bingkisan. “Selamat ulang tahun !” Luna tersenyum mengucapkannya pada Sita. Sita bangun dan duduk didipannya geleng-geleng kepala, ‘Kamu ngagetin aja !” jawab Sita. Kejadian ini memang seringkali terjadi, tiba-tiba Luna sudah duduk disofa kamarnya sementara Sita sedang sibuk mencuci piring atau apa, lalu setelah itu, mereka bersepeda sore-sore, berboncengan keliling kompleks. Luna adalah gadis yang kuat dan tangguh, ia juga menyukai tantangan dan selalu ingin mencoba sesuatu yang baru.

Lambat laun Sita pun menyayangi Luna, entah mengapa, apa yang dilakukan Luna selalu benar, kalaupun ada kesalahan, Sita selalu bisa memaafkan Luna. Sita menjaga Luna, menemani Luna kemana saja dia pergi sepanjang itu tidak mengganggu tugas-tugas rumah Sita. Keakraban mereka terjalin dengan begitu manisnya, namun tidak berarti tanpa berkelahi, kalau sudah bertengkar dan saling diam, biasanya Luna akan menghampiri lebih dulu atau kadang menulis surat untuk meminta maaf. Hal ini berjalan terus sampai mereka SMA dan bersekolah ditempat yang sama.
Masa SMA adalah masa yang paling menyenangkan bagi Luna, memiliki teman-teman yang baru dan gaya bermain yang baru, nongkrong di café atau pergi ke mal. Namun disinilah akhirnya letak perbedaan mereka, dan betapa Sita merasa sedih, bahwa perbedaan ini menjadikan Luna membencinya. Sita kemudian menjadi pendiam, dan tidak lagi bermain dengan Luna. Sementara Luna dengan gank teman-temannya selalu mencemooh dan mencibir Sita, seolah mereka memandang seseorang yang perlu di hina dan diejek. Sita tidak mengerti mengapa Luna berbuat sekeji itu. Namun Begitu besar kasih sayang Sita terhadap Luna hingga dia tidak mampu melakukan apa-apa atas apa yang dilakukan Luna dan teman-temannya terhadap dirinya.

Bagi Sita, Luna adalah sahabat terbaiknya, apapun yang Luna lakukan terhadap dirinya tidak akan pernah Sita balaskan. Sita menyimpannya sendiri, menyimpan luka hati. Sita kemudian menikmati bermain sendiri, nongkrong di bengkel sepeda dan berkenalan dengan pemilik bengkel sepeda yang bernama juned, seorang pemuda yang sangat tidak berdaya meski ia menginginkan pergi kesekolah. Sita selalu menemaninya saat-saat senggang. Hingga pada suatu waktu ia tidak lagi mendapatkan juned disana pada siang hari, melainkan malam hari.

“Kamu kemana aja jun ?” Tanya Sita suatu kali bertemu dengan juned. “Saya sekolah lagi Mbak!” jawabnya dengan tersipu malu bercampur bangga. “Wah hebat…selamat ya” Sita menyambut dengan gembira. “Iya mbak, ada seorang Ibu yang baik hati mau menyekolahkan saya”, juned seakan memberitahu. “Oh ya ? siapa “ Tanya Luna. “Tuh, Ibu di rumah sana’ jawab juned sambil menunjukkan kearah sebuah gang. “Nanti aku anter ya kerumahnya!” lanjutnya. “Ah gak usah jun, gak enak’ jawab Sita. “Kamu gak perlu mampir, kita lewat saja” ajak Juned. Dan Sita pun mengangguk.

Sita sangat terharu mendapatkan temannya, juned dapat kembali kesekolah. Dan dia juga sangat mengagumi niat baik seorang ibu yang masih bisa meluangkan waktu dan uangnya untuk dapat memberikan perhatian kepada juned sahabatnya. Akhirnya Ia pun melayangkan surat kepada ibu tersebut untuk mengucapkan terima kasih dan mengungkapkan betapa dia merasa bangga dan bahagia, atas apa yang Ibu tersebut lakukan. Namun Sita adalah seorang yang introvert, sehingga dia tidak mau menulis identitas apapun pada surat tersebut, dan kemudian mengirimkan ke alamat rumah si Ibu yang baik ini.

Panas terik membakar kulit tubuh Sita, yang berjalan kaki setelah turun dari Bis metro mini. Ia menundukkan kepalanya dan berjalan lurus kedepan. Masih 500 Meter lagi untuk tiba di rumah. Ia membayangkan es teh manis dingin saat itu, ketika ada bunyi klakson yang ditekan sehalus mungkin terdengar dari belakangnya. Ada sebuah mobil Charade 323 abu-abu gelap mendekatinya. Dia kemudian menoleh, dan jendela mobil itu pun kini sejajar dengan dirinya. Kaca jendela terbuka perlahan, ada sebuah wajah manis terlihat dibelakang kemudi dan tersenyum kepadanya, “Panas ?” Tanyanya. Sita hanya tersenyum. “biar tante anter ya ? boleh ?” tanyanya kembali. Sita tertegun dan berusaha mengingat, siapa gerangan Ibu muda ini, dan ketika ia mulai megingatnya, ia pun kemudian menerima tawarannya. Dan ini adalah permulaan bagi dirinya, awal dari sebuah cerita panjang yang mengantarkan dia kepada masa-masa ini, masalah dan kepedihan yang tidak pernah dapat Sita lupakan dan lenyapkan sepanjang hidupnya..

[ Next Thread | Previous Thread | Next Message | Previous Message ]

[ Contact Forum Admin ]


Forum timezone: GMT-8
VF Version: 3.00b, ConfDB:
Before posting please read our privacy policy.
VoyForums(tm) is a Free Service from Voyager Info-Systems.
Copyright © 1998-2019 Voyager Info-Systems. All Rights Reserved.