Subject: Kufrun duna kufrin |
Author:
sempoi
|
[
Next Thread |
Previous Thread |
Next Message |
Previous Message
]
Date Posted: 11:44:18 04/28/06 Fri
Kufrun duna kufrin
(Kekafiran yang tidak mengeluarkan dari Islam)
Allah Ta’ala berfirman,
“Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah ia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dan beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya adzab yang besar” (QS. An Nahl : 106)
Kufur secara bahasa ertinya menutupi. Sedangkan menurut syara’, kufur ertinya adalah tidak beriman kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam, baik dengan mendustakannya atau tidak mendustakannya (Kitab Majmu’ Fataawaa XII/335 oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah). Orang yang melakukan kekufuran disebut kafir. Dari sudut bahasa awam yang mudah ia bermaksud tidak percaya atau kurang yakin.
Ahlus Sunnah memiliki prinsip bahawa tidak setiap ucapan dan perbuatan –yang disifatkan oleh nash sebagai kekufuran-merupakan kekafiran yang besar (kufur akbar) yang mengeluarkan seorang dari agama, kerana sesungguhnya kekafiran ada 2 macam, kekafiran kecil (asghar) dan kekafiran besar (akbar)
Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan dalam Kitab ‘Aqidatut Tauhid hal. 84 menjelaskan beberapa perbezaan antara kufur besar dan kufur kecil sebagai berikut :
1. Kufur besar mengeluarkan pelakunya dari agama Islam dan menghapuskan (pahala) amalnya, sedangkan kufur kecil tidak menjadikan pelakunya keluar dari agama Islam, juga tidak menghapuskan pahala amalnya, tetapi boleh mengurangi (pahala)nya sesuai dengan kadar kekufurannya, dan pelakunya tetap dihadapkan dengan ancaman.
2. Kufur besar menjadikan pelakunya kekal di dalam neraka, sedangkan kufur kecil, jika pelakunya masuk neraka, maka ia tidak kekal di dalamnya, dan boleh saja Allah Ta’ala memberi ampunan kepada pelakunya sehingga ia tidak masuk neraka sama sekali.
Nash yang paling jelas tentang kufrun duna kufrin (kekafiran yang tidak mengeluarkan dari Islam atau kufur kecil) adalah atsar dari sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallaHu ‘anHu ketika menafsirkan ayat :
“Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang – orang kafir” (QS. Al Maa-idah : 44)
Dari Ibnu Thawus dari ayahnya, Thawus rahimahullah, ia berkata, “Ibnu ‘Abbas pernah ditanya oleh seseorang tentang tafsir ayat, ‘Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang – orang kafir’, maka apakah orang yang melakukan demikian bererti ia telah kafir (keluar dari Islam) ?”
Ibnu ‘Abbas radhiyallaHu ‘anHu menjawab, “Idzaa fa’ala dzalika faHuwa biHi kufrun wa laysa Kaman kafara billaHi wal yaumil akhir” yang ertinya “Apabila ia melakukan demikian, maka ia kufur. Namun tidak seperti orang yang telah kafir terhadap Allah dan hari akhir”
Pada riwayat lain, Ibnu ‘Abbas radhiyallaHu ‘anHu pernah ditanya dengan pertanyaan yang serupa, lalu beliau menjawab, “Maka ia telah kufur dengan perbuatannya, namun tidak seperti orang yang telah kafir terhadap Allah, Malaikat dan Rasul – rasul-Nya” (Kitab Tafsir Ibnu Jarir Ath Thabary no. 12059,12060 dan Tafsir Ibnu Katsir II/70)
Berkata Ibnu Abil ‘Izz al Hanafi rahimahullah (meninggal dunia tahun 792 H.),
“Harus difahami, iaitu bahwa berhukum dengan selain hukum Allah terkadang merupakan kekufuran yang mengeluarkan dari Al Islam, terkadang boleh berupa kemaksiatan, baik besar mahupun kecil.
Hal itu bergantung kepada kondisi orang yang berhukum. Apabila ia berkeyakinan bahawa berhukum kepada hukum Allah itu tidak wajib, ada alternatif lain, atau ia meremehkannya meski ia yakin itu hukum Allah, maka hal itu merupakan kekufuran yang besar.
Namun apabila ia yakin akan keharusan berhukum kepada Allah dan dalam konteks yang terjadi ia juga menyedari hal itu, sementara ia melenceng sedang ia tahu bahawa dengan itu ia berhak disiksa, maka orang yang bermaksiat itu disebut kafir, namun dalam bentuk kiasan saja atau kufur kecil.” (Kitab Syarh ‘Aqiidah Thahawiyah hal. 446, takhrij dan ta’liq oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth dan Syaikh Abdullah bin Abdil Muhsin At Turki)
Maraji’:
Disarikan dari Buku Syarah ‘Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Pustaka At Taqwa, Bogor, Cetakan Kedua, Jumadil Akhir 1425 H/Ogos 2004 M.
Semoga Bermanfaat.
Catatan :
Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda, “Barangsiapa mengatakan kepada saudaranya, ‘Ya kafir’, maka dengan ucapan itu akan kembali kepada salah satu dari keduanya. Apabila seperti yang ia katakan, namun apabila tidak maka akan kembali kepada yang menuduh” (HR. Muslim no. 60 dan lainnya, dari Sahabat Ibnu Umar ra.)
Allah Ta'ala berfirman, "Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain (syirik) itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar" (QS. An Nisaa' : 48)
Dari Abu Dzar ra., Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Jibril berkata kepadaku, 'Barangsiapa di antara umatmu yang meninggal dunia dalam keadaan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka pasti dia masuk syurga'" (HR. Bukhari) [Hadits ini terdapat pada Kitab Shahih Bukhari]
[
Next Thread |
Previous Thread |
Next Message |
Previous Message
]
| |