VoyForums
[ Show ]
Support VoyForums
[ Shrink ]
VoyForums Announcement: Programming and providing support for this service has been a labor of love since 1997. We are one of the few services online who values our users' privacy, and have never sold your information. We have even fought hard to defend your privacy in legal cases; however, we've done it with almost no financial support -- paying out of pocket to continue providing the service. Due to the issues imposed on us by advertisers, we also stopped hosting most ads on the forums many years ago. We hope you appreciate our efforts.

Show your support by donating any amount. (Note: We are still technically a for-profit company, so your contribution is not tax-deductible.) PayPal Acct: Feedback:

Donate to VoyForums (PayPal):

Login ] [ Contact Forum Admin ] [ Main index ] [ Post a new message ] [ Search | Check update time | Archives: 1234[5]678910 ]
Subject: Menghadapi Fitnah


Author:
saudaraku
[ Next Thread | Previous Thread | Next Message | Previous Message ]
Date Posted: 11:06:36 03/16/06 Thu

Berikut ini beberapa kaedah-kaedah pokok yang harus dipegang oleh setiap muslim dalam menghadapi fitnah.

Kaedah Pertama: Pada setiap perselisihan merujuk pada Al Quran dan Sunnah sesuai dengan pemahaman para ulama salaf.

Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:

"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (-Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berselisih pendapat tentang sesuatu maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya". (QS. An Nisa':59).

Dan Allah Jalla Tsana-uhu berfirman:

"Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (darinya)". (QS. Al A-raf:2).

Dan di dalam Hadis Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Saya tinggalkan pada kalian dua perkara, kalian tidak akan sesat di belakang keduanya (iaitu) kitab Allah dan Sunnahku". (HR. Malik dan Al Hakim dan dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Al Misykah).

Dan dalam surah An Nisa':65, Allah Ta'ala menyatakan:

"Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam segala perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan di dalam hati mereka terhadap keputusan yang kamu berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya".

Dan ingatlah bahawa menentang Allah dan Rasul-Nya adalah sebab kehinaan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, mereka termasuk orang-orang yang sangat hina". (QS Al Mujadilah:20).

Dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengingatkan dalam hadis Ibnu Umar:

"Apabila kalian telah berjual beli dengan cara 'inah dan kalian telah redha dengan perkebunan dan kalian telah mengambil ekor-ekor sapi dan kalian meninggalkan jihad, maka Allah akan menimpakan kepada kalian suatu kehinaan yang tidak akan diangkat sampai kalian kembali kepada agama kalian". (HR. Abu Dawud dan lainnya, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Ash Shahihah no 11).

Dan juga Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengingatkan dalam hadis beliau:

"Dan telah dijadikan kehinaan dan kerendahan bagi orang yang menyelisihi perintahku". (Hadis hasan dari seluruh jalan-jalannya. Dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Al Irwa' no 1269).

Dan ketahuilah bahawa menyelisihi Allah dan Rasul-Nya adalah sebab turunnya musibah dan siksaan dan sebab kehancuran dan kesesatan. Allah Ta'ala menegaskan dalam firman-Nya:

"Maka hendaklah orang-orang yang menyelisihi perintah Rasul takut akan ditimpa cubaan atau ditimpa azab yang pedih". (QS. An Nur:63).

Dan dalam hadis Abu Hurairah riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menyatakan:

"Apa yang saya melarang kalian darinya maka jauhilah hal tersebut dan apa yang saya perintahkan kepada kalian maka laksanakanlah semampu kalian. Sesungguhnya yang menghancurkan orang-orang sebelum kalian hanyalah banyaknya pertanyaan mereka dan penyelisihan mereka terhadap para Nabinya".

Dan Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu 'anhu berkata:

"Tidak saya meninggalkan sesuatu apapun yang Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengerjakannya kecuali saya kerjakan kerana saya takut kalau saya meninggalkan sesuatu dari perintah beliau saya akan menyimpang". (Riwayat Bukhari dan Mulsim).

Dan memahami Al Quran dan As Sunnah harus dengan pemahaman para ulama Salaf. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

"Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali". (An Nisa':115).

Dalam hadis yang mutawatir Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Sebaik-baik manusia adalah zamanku, kemudian zaman setelahnya kemudian zaman setelahnya".

Dan beliau menyatakan :

"Telah terpecah orang-orang Yahudi menjadi tujuh puluh satu firqah dan telah terpecah orang-orang Nasara menjadi tujuh puluh dua firqah dan sesungguhnya umatku akan terpecah mejadi tujuh puluh tiga firqah, semuanya dalam neraka kecuali satu dan ia adalah al jama'ah". (Hadis shahih dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Zhilalul Jannah dan Syaikh Muqbil dalam Ash Shahih AL Musnad Mimma Laisa Fi Ash Shahihain).

kerana itulah Imam Ahmad berkata: "Pokok sunnah bagi kami adalah berpegang teguh di atas apa yang para shahabat di atasnya dan mengikuti mereka". Lihat Syarah Ushul I'tiqad Ahlus sunnah wal Jama'ah 1/176.

Allahu Akbar! betapa kuatnya pijakan seorang muslim bila ia berpegang teguh kepada Al Quran dan Sunnah sesuai dengan pemahaman para ulama salaf. Ini merupakan senjata yang paling ampuh dan tameng yang paling kuat dalam menghadapi dan menangkis setiap fitnah yang datang. Dan sejarah telah membuktikan bagaimana orang-orang yang berpegang teguh kepada Al Quran dan Sunnah selamat dari fitnah dan mereka tetap kukuh di atas jalan yang lurus.

Lihatlah kisah Abu Bakar Ash Shadiq radhiyallahu 'anhu, ketika Rasulullah saw mengirim Usamah bin Zaid dengan memimpin 700 orang untuk menggempur kerajaan Rum. Maka ketika pasukan tersebut tiba di suatu tempat yang bernama Dzu Khasyab, Rasulullah saw wafat. Maka mulailah orang-orang Arab di sekitar Madinah murtad dari agama sehingga para shahabat bimbangkan keadaan kota Madinah. Lalu para shahabat berkata kepada Abu Bakar: "Wahai Abu Bakar, kembalikan pasukan yang dikirim ke kerajaan Rum itu, apakah mereka diarahkan ke Rum sedang orang-orang Arab di sekitar Madinah telah murtad?" Maka Abu Bakar radhiyallahu 'anhu berkata: "Demi yang tidak ada sesembahan yang berhak selain-Nya, andaikata anjing-anjing telah berlari di kaki-kaki para isteri Rasulullah saw, saya tidak akan menarik suatu pasukanpun yang dikirim oleh Rasulullah saw dan saya tidak akan melepaskan bendera yang diikat oleh Rasulullah."

Lihat bagaimana gigihnya Abu Bakar Ash Shadiq radhiyallahu 'anhu berpegang kepada sunnah Rasulullah saw dalam kondisi yang sangat genting seperti ini dan betapa kuatnya keyakinan beliau akan kemenangan orang yang menjalankan perintah-Nya.

Maka apa yang terjadi setelah itu, setiap kali pasukan Usamah bin Zaid melewati suatu suku yang murtad mereka berkata, "Andaikata mereka itu tidak mempunyai kekuatan, tentu tidak akan keluar pasukan sekuat ini dari mereka. Tapi kita tunggu sampai mereka bertempur melawan kerajaan Rum." Lalu bertempurlah pasukan Usamah bin Zaid menghadapi kerajaan Rum dan pasukan Usamah berhasil mengalahkan dan membunuh mereka. Kemudian kembalilah pasukan Usamah dengan selamat maka tetaplah orang-orang yang akan murtad itu tadi di atas Islam. Baca kisah ini dalam Madarik An Nazhor hal. 51-52.
Maka lihatlah wahai orang-orang yang menghendaki keselamatan, peganglah kaedah pertama ini dengan baik, nescaya engkau akan selamat dari fitnah di dunia dan di akhirat.

Kaedah kedua: Merujuk kepada para ulama.

Allah Al Hakim mengisahkan tentang Qarun dalam firman-Nya:

"Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: 'Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun, sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar'. berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: 'Celakalah kalian, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, dan tidak diperoleh pahala itu kecuali oleh orang-orang yang sabar. Maka Kami benamkan Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya sesuatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya)." (Al Qashash:79-81).

kerana itulah Imam Al Hasan Al Bashri berkata: "Sesungguhnya bila fitnah itu datang, diketahui oleh setiap alim (ulama), dan apabila telah terjadi (lewat), maka baru diketahui oleh orang-orang yang jahil". Dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa alihi wa sallama bersabda dalam hadis 'Ubadah bin Shomit riwayat imam Ahmad dan lain-lain:

"Bukan dari ummatku siapa yang tidak menghormati orang yang besar dari kami dan tidak merahmati orang yang kecil dari kami dan tidak mengetahui hak orang yang alim dari kami". (Dihasankan oleh Syeikh Al Albany dalam Shohih Al-Jami' Ash-Shoghir).

Dan juga Rasulullah saw bersabda dalam hadis Ibnu Abbas yang diriwayatkan oleh Imam Al Hakim, Ibnu Hibban dan lain-lain:

"Berkah itu bersama orang-orang besarnya kalian". (Dishohihkan oleh Syeikh Al Albany dalam Silsilah Ahadits Ash Shohihah no. 1778).

Dan fitnah akan bermunculan apabila para ulama sudah tidak ada lagi dijadikan sebagai rujukan sebagaimana dalam hadis Abu Hurairah riwayat Ibnu Majah dan lain-lainnya, Rasulullah saw bersabda:

"Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang menipu, akan dipercaya/dibenarkan padanya orang yang berdusta dan dianggap dusta orang yang jujur, orang yang berkhianat dianggap amanah dan orang yang amanah dianggap berkhianat dan akan berbicara Ar-Ruwaibidhoh. Ditanyakan: "Siapakah Ar-Ruwaibidhoh itu?. Beliau menjawab: "Orang yang bodoh berbicara dalam perkara umum". (Dishohihkan oleh Syeikh Muqbil dalam Ash-Shohih Al-Musnad Mimma Laisa Fi Ash Shohihain).

Dan juga Rasulullah saw bersabda dalam hadis Abdullah bin 'Amr bin 'Ash riwayat Bukhari-Muslim:

"Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari para hamba akan tetapi Allah mencabutnya dengan mencabut (mewafatkan) para ulama sampai bila tidak tersisa lagi seorang alim maka manusiapun mengambil para pemimpin yang bodoh maka merekapun ditanya lalu mereka memberi fatwa tanpa ilmu maka sesatlah mereka lagi menyesatkan".

Dan berkata Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu:

"Manusia masih akan sentiasa sebagai orang yang sholeh lagi berpegang teguh sepanjang ilmu datang kepada mereka dai para shahabat Muhammad saw dan orang-orang besar mereka. Maka apabila (ilmu) datang kepada mereka dari orang-orang kecil maka binasalah mereka". Lihat takhrijnya dalam kitab madarik An Nazhar hal 161.

Kaedah Ketiga: Tidak boleh berkomentar dalam perkara-perkara Nawazil kecuali para ulama besar ahli ijthad. Nawazil jamak dari Nazilah, maksudnya iaitu kejadian-kejadian atau masalah-masalah kontemporer yang terjadi pada kaum muslimin. Dan Nawazil ini dikenal juga dengan istilah hawadits. Ukuran Ulama Besar Ahli Ijtihad.

Berkata Ibnul Qoyyim dalam I'lam Al Muwaqqi'in 4/212: "Orang yang alim terhadap Kitabullah dan Sunnah RasulNya dan perkataan para shahabat, maka dialah mujtahid (ahli ijtihad) pada perkara-perkara Nawazil."

Berkata Imam Asy Syatibi dalam Al I'tishom 4/212: "Bahkan apabila dihadapkan kepadanya perkara-perkara Nawazil kemudian dia kembalikan pada ushulnya maka ia mendapatkan (penyelesaiannya) di dalamnya dan hal tersebut tidak didapatkan oleh orang yang bukan mujtahid. Tetapi hanyalah didapatkan oleh para mujtahid yang disifatkan dalam ilmu ushul fekah."

Dan Ibnu Rajab mencontohkannya seperti Imam Ahmad dan kemudian beliau menjelaskan sisi kepantasan Imam Ahmad untuk berfatwa dalam Nawazil. Di antara kriteria imam Amhad yang beliau sebutkan iaitu beliau telah mencapai puncak pengetahuan tentang Al Quran, As Sunnah dan Al Atsar. Ilmu Al Quran seperti ilmu tentang An Nasikh wal Mansukh, Al Mutaqaddimin wal Mutaakhkhir dan mengumpulkan tafsir para sahabat dan para tabi'in. Ilmu As Sunnah seperti hafalan beliau terhadap hadis, mengetahui yang shohih dan dhoifnya, mengetahui rowi-rowi yang tsiqah dan yang majruh dan mengetahui jalan-jalan hadis dan cacat-cacatnya... kemudian Ibnu Rajab berkata, "Telah dimaklum siapa yang memahami semua ilmu ini dan sangat menguasainya, adalah suatu hal yang sangat mudah baginya untuk mengetahui Hawadits dan memberikan jawapannya".

Dalil kaedah ketiga ini adalah firman Allah Ta'ala dalam surah An Nisa ayat 83:

"Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah akan diketahui hal tersebut oleh orang-orang yang beristimbath di antara mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalaulah bukan kerana kurnia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil sahaja (di antaramu)".

Berkata syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa'dy menafsirkan ayat ini, "Ini adalah pelajaran adab dari Allah kepada para hamba-Nya tentang perbuatan mereka ini yang tidak layak. Dan yang pantas bagi mereka apabila datang kepada mereka suatu perkara dari perkara-perkara yang penting dan maslahat-maslahat umum yang berkaitan dengan keamanan dan kebahagiaan kaum mukminin atau (berkaitan) dengan ketakutan yang di dalamnya terdapat musibah, maka wajib atas mereka untuk ber-tatsabbut (mencari kejelasan) dan jangan tergesa-gesa menyebarkan berita tersebut bahkan hendaknya mereka mengembalikannya kepada Rasul dan kepada Ulil Amri di antara mereka, iaitu Ahli ra'yi wal ilmi wan nushhi wal aqli war razanah (para ahli dalam menilai/mempertimbangkan, dalam ilmu, dalam menasihati, dalam berfikir dan memiliki ketenangan) yang mengetahui apa-apa yang merupakan maslahat dan kebalikannya. Kalau mereka melihat penyebaran berita tersebut sebagai maslahat, menambah semangat kaum mukminin, kegembiraan bagi mereka dan benteng dari musuh-musuh mereka maka mereka mengerjakannya (menyebarkannya). Dan kalau mereka melihat tidak ada maslahat tapi bahayanya melebihi maslahatnya maka tidaklah mereka sebarkan, kerana itulah (Allah Ta'ala) berfirman, 'Maka akan diketahui hal tersebut oleh orang-orang yang beristimbat dari mereka', iaitu mereka akan mengeluarkan hal tersebut dengan pemikiran mereka dan pendapat-pendapat mereka yang lurus dan ilmu mereka yang di atas petunjuk."

Allahu Akbar betapa sempurnanya tuntunan islam, andaikata kaum muslimin beramal dengan kaedah ini nescaya mereka akan terjaga dari fitnah. Sungguh berbagai macam fitnah yang melanda kaum muslimin disebabkan kerana kekurangan ajaran sebahagian orang yang tidak tahu kadar dirinya dan merasa bangga dengan kemampuannya atau dengan title-title yang mereka sandang sehingga dengan sangat lancangnya berani berkomentar dalam perkara-perkara Nawazil yang terjadi pada kaum muslimin. Maka wajarlah jika muncul berbagai macam kerosakan dan fitnah yang lebih besar kerana ulah segelintir orang yang tidak tahu diri ini. Dan cukuplah hal tersebut sebagai dosa yang sangat besar bagi orang yang menyelisihi perintah dalam surah An Nisa' di atas dan juga dia tergolong orang-orang yang tidak menempatkan amanah pada tempatnya, yang amanah itu harusnya diserahkan kepada ahlinya iaitu para ulul amri, para ulama besar dan penguasa. Dan tidak menempatkan amanah pada tempatnya adalah pelanggaran terhadap perintah Allah Ta'ala dan merupakan salah satu tanda hari kiamat.

Allah Ta'ala berfirman dalam surah An Nisa: 58:

"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat".

Dan Rasulullah saw bertanya ketika ditanya tentang bilakah hari kiamat? Beliau bersabda:

"Apabila amanah telah ditelantarkan maka tunggulah hari kiamat." Maka orang itu kembali bertanya, "Bila ditelantarkannya?" Beliau menjawab, "Apabila perkara telah diserahkan kepada selain ahlinya maka tunggulah hari kiamat". (HSR Bukhari dari shahabat Abu Hurairah).

Dan menyerahkan perkara Nawazil kepada ulil amri merupakan ushul (pokok) syari'at Islam yang dipegang pleh para imam Ahlus Sunnah wal Jama'ah dari zaman ke zaman.

Berkata Abu Hatim Ar Razy: "Mazhab dan pilihan kami adalah mengikuti Rasulullah saw dan para shahabat beliau, para tabi'in dan orang-orang setelah mereka (yang mengikuti mereka) dengan baik ... . Dan komitmen terhadap Al Kitab dan As Sunnah dan membela para Imam yang mengikuti jejak para ulama salaf. Dan pilihan kami apa yang dipilih oleh Ahlus Sunnah dari para imam di berbagai negeri, seperti: Malik bin Anas di Madinah dan Al Auza'y di Syam dan Al Laits bin Saad di Mesir dan Sufyan Ats Tasury serta Hammad bin Zaid di Iraq pada hawadits yang tidak ditemukan tentangnya riwayat dari Nabi saw, para shahabat dan tabi'in. Dan meninggalkan pendapat-pendapat Al Mulabbisin (orang-orang yang menyamar-nyamarkan perkara), Al Mumawwihin (orang-orang yang mengaburkan perkara), Al Muzakhrifin (orang-orang yang menghias-hiasi/memperindah perkara dari yang sebenarnya), Al Mumakhriqin (para pembohong) lagi Al Kadzdzabin (para pendusta)". Lihat: Syarh Ushul I'tiqad Ahlis Sunnah Wal Jama'ah, karya Al Lalaka'i Jilid 1 hal 202.

Dan berkata Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Minhajus Sunnah jilid 4 hal 404 ditengah pembicaraan beliau terhadap masalah jihad: "Secara global pembahasan tentang perkara-perkara detail ini merupakan pekerjaan orang khusus dari para ulama".

Lihat perincian kaedah ketiga secara lengkap dalam kitab Madarik An Nazhor Baina At Thabiqot Asy Syar'iyah wal Al Infi'alat Al Hamasiyah. Kitab ini telah direkomendasi oleh dua ulama besar di zaman ini iaitu syaikh Al Allamah Al Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al Albani -rahimahullah- dan syaikh Al Allamah Al Muhaddits Abdul Muhsin Al Abbad -hafizhahullah-.

Kaedah Keempat: Dalam setiap sesuatu hendaknya bersikap lemah lembut, berhati-hati dan tidak tergesa-gesa dalam menarik kesimpulan atau memberikan hukum.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman pada Nabi-Nya:

"Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu". (QS. Al Imran: 159).

Dan dalam hadis 'Aisyah, Rasulullah saw bersabda:

"Sesungguhnya tidaklah lemah lembut itu berada pada sesuatu apapun kecuali akan menghiasinya dan tidaklah dicabut dari sesuatu kecuali akan membuatnya jelek". (HSR. Muslim).

Dan dalam hadis Jarir bin 'Abdillah, beliau juga menegaskan:

"Siapa yang diharamkan dari sifat lemah lembut maka diharamkan (untuknya) kebaikan". (HSR. Muslim).

Dan dalam hadis 'Aisyah riwayat Bukhari dan Muslim beliau menyatakan:

"Sesungguhnya Allah mencintai kelemahlembutan dalam segala perkara".

Dan Rasulullah saw bersabda kepada Al Asyajj Abdul Qais:

"Sesungguhnya pada engkau ada dua sifat yang dicintai oleh Allah, Al Hilm (kebijaksanaan) dan Al Anah (tidak tergesa-gesa)." (HSR. Muslim dari Ibnu Abbas dan Abu Sa'id Al Khudry).

Dan Rasulullah saw juga bersabda:

"Pelan-pelan (tidak tergesa-gesa) dari Allah dan tergesa-gesa itu dari syaitan". (Dihasankan oleh syaikh Al Albani dalam Ash Shahihah no. 1795 ).

Kaedah Kelima: Bersikap adil dalam setiap sesuatu.

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

"Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepada kamu agar kalian dapat mengambil pelajaran". (QS An Nahl: 90 ).

Dan Allah Ta'ala memerintahkan dalam firman-Nya:

"Dan Apabila kalian berkata, maka hendaklah kalian berlaku adil kendatipun dia adalah kerabat (kalian)". (QS. Al An'am: 152 ).

Dan Allah Ta'ala menegaskan dalam firman-Nya di surah Al Maidah ayat 8:

"Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah kerana adil itu lebih dekat kepada takwa".

Ayat-ayat di atas sangat jelas sekali menunjukkan harusnya berlaku adil pada segala sesuatu dan tentunya hal tersebut lebih ditekankan pada kondisi fitnah maka hendaknya setiap orang berlaku adil dalam berucap, berbuat, bersikap dan memberikan hukum. Dan ukuran suatu keadilan tentunya ditimbang menurut tuntunan Al Quran dan Sunnah.

Kaedah keenam: Tidak boleh menghukumi suatu permasalahan kecuali setelah mengetahui gambaran yang jelas tentang permasalahan tersebut.

Dan kaedah ini mempunyai dasar yang sangat banyak dari Al Quran dan Sunnah.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam surah Al Isra' ayat 36:

"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, pengelihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya".

Dan Allah Jalla wa 'Ala berfirman dalam surah Al Hujurat ayat 6:

"Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa sesuatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan sesuatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu".

Dan Rasulullah saw bersabda:

"Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan suatu kalimat yang ia tidak mencari kepastian apa yang ada di dalamnya, maka disebabkan hal itu dilemparkan ke dalam neraka sejauh antara timur dan barat". (HSR Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).

Kaedah ini adalah kaedah yang sangat bermanfaat dan membantu dalam segala bentuk fitnah yang terjadi. Camkanlah baik-baik kaedah ini dan warnailah gerak-gerikmu dengannya nescaya engkau akan selamat. Wallahul Muwaffiq.

Kaedah ketujuh: Pada kondisi fitnah tidak segala sesuatu yang diketahui harus diucapkan.

Perkataan dan perbuatan dalam kondisi fitnah harus mempunyai ketentuan dan aturan. Tidak semua perkara yang dipandang baik harus dinampakkan dan dikerjakan. kerana perkataan dan perbuatan dalam kondisi fitnah akan melahirkan suatu akibat dibelakangnya.

Dalam hadis 'Aisyah radhiyallahu 'anha Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Wahai 'Aisyah andaikata kaummu (penduduk Makkah) bukan orang yang baru (meninggalkan) kekufuran, nescaya saya merobohkan Ka'bah kemudian saya akan menjadikannya dua pintu, pintu tempat manusia masuk dan pintu mereka keluar." (HSR. Bukhari dan Muslim).

Lihatlah wahai orang-orang yang berfikir kenapa Rasulullah saw tidak melakukan apa yang beliau kehendaki, bukankah itu sunnahnya dan syari'at yang beliau bawa? Jawapannya jelas kerana orang-orang Makkah baru masuk islam dan mereka sangat mengagungkan Ka'bah maka Rasulullah saw takut kalau beliau merubah bangunan ka'bah beliau dianggap orang sombong terhadap mereka sehingga hal tersebut boleh menyebabkan mereka lari dari Islam dan kembali kepada kekufuran. kerana itulah Imam Bukhari ketika menyebutkan hadis ini, beliau sebutkan dengan judul; "Bab orang meninggalkan sebahagian pilihan kerana takut sebahagian orang kurang memahaminya lalu terjatuhlah mereka ke dalam perkara yang lebih besar".

Dan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu berkata:

"Berceritalah kepada manusia dengan apa yang mereka ketahui, apakah kalian ingin Allah dan Rasul-Nya didustakan?" (Riwayat Bukhari).

Dan 'Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata:

"Tidaklah engkau berbicara kepada sesuatu kaum dengan suatu pembicaraan yang tidak dapat dicerna oleh akal mereka kecuali akan menjadikan fitnah pada sebahagian mereka". (Diriwayatkan oleh Muslim dalam Muqaddimah Shahih-nya dengan sanad yang terputus).

Dan dalam hadis riwayat Bukhari, Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata:

"Saya menghafal dari Rasulullah saw dua kantong. Adapun salah satunya saya telah sebarkan dan adapun yang lainnya kalau saya sebarkan maka akan diputus leher ini".

Berkata Imam Adz Dzahabi dalam Syiar A'lam An Nubala jilid 2 hal 597-598: "Ini menunjukkan bolehnya menyembunyikan sebahagian hadis-hadis yang boleh menggerakkan fitnah dalam Al Ushul (masalah-masalah pokok) mahupun Al Furu' (masalah-masalah cabang) atau dalam (hadis-hadis tentang) pujian dan celaan. Adapun hadis yang berkaitan dengan halal dan haram maka tidak halal untuk disembunyikan dalam bentuk bagaimanapun kerana itu dari kejelasan dan petunjuk".

Kemudian beliau sebutkan perkataan Ali bin Abi Thalib di atas lalu beliau berkata: "Dan demikian pula Abu Hurairah andaikata beliau menyebarkan kantong itu nescaya dia akan disakiti bahkan akan dibunuh. Akan tetapi seorang alim kadang-kadang ijtihadnya mendorongnya untuk menyebarkan suatu hadis untuk menghidupkan sunnah maka baginya apa yang ia niatkan dan ia mendapatkan pahala walaupun ia salah dalam ijtihadnya".

Dan Al Hafidz Ibnu Hajar di dalam Fathul Bari jilid 1 hal 225 ketika menjelaskan perkataan Ali bin Abi Thalib, beliau berkata: "Di dalamnya ada dalil bahawa perkara yang mutasyabih (yang mengandung beberapa pengertian) tidak pantas disebutkan pada khalayak umum".

Kemudian beliau menyebutkan perkataan Ibnu Mas'ud lalu beliau berkata" dan antara orang-orang yang tidak senang memberikan hadis pada sebahagian orang adalah imam Ahmad dalam hadis-hadis yang zahirnya membolehkan khuruj (kudeta) terhadap pemerintah, dan imam Malik dalam hadis-hadis tentang sifat-sifat (Allah) dan Abu Yusuf tentang hadis-hadis yang gharib (aneh dari sisi makna maupun lafaz) ... Dan dari Al Hasan (Al Basri) ia mengingkari Anas radhiyallahu 'anhu menceritakan kepada Hajjaj tentang kisah Al Uraniyyin kerana ia akan menjadikannya sebagai wasilah yang selama ini ia pegang dalam berlebihan menumpahkan darah dengan ta'wil yang lemah.

Dan ukuran hal tersebut (boleh menyembunyikan sebahagian hadis) iaitu hendaknya zhohir suatu hadis menguatkan suatu bid'ah dan yang zhohir tersebut pada asalnya bukan yang diinginkan. maka menahannya (menyembunyikannya) dari orang yang ditakutkan ia akan mengambil zhohirnya adalah perkara yang mathlub (dicari dan diinginkan)".

Demikian tujuh kaedah ini secara ringkas dari beberapa sumber, yang paling pentingnya kitab Adh Dhowabith Asy Sar'iyah li Mawqif Al Muslim fil Fitan karya Syaikh Sholeh bin Abdul Aziz Alu Asy Syaikh dan kitab Madarik An Nadzor karya Syaikh Abul Malik Romadhony. Dan banyak lagi kaedah-kaedah lainnya mudah-mudahan bermanfaat.

Kekafiran atau kufur dalam bahasa Arab asalnya bererti penutup. Adapun dalam istilah syariat bererti lawan dari iman.

Kufur boleh terjadi kerana beberapa sebab antara lain:
1. Mendustakan atau tidak mempercayai.
2. Ragu terhadap sesuatu yang jelas dalam syari’at.
3. Berpaling dari agama Allah.
4. Kemunafikan yakni menyembunyikan kekafiran dan menampakkan keislaman.
5. Sombong terhadap perintah Allah `Azza wa Jalla seperti yang dilakukan iblis.
6. Tidak mahu mengikrarkan kebenaran agama Allah bahkan terkadang dibarengi dengan memeranginya, padahal hatinya yakin kalau itu benar, seperti yang terjadi pada Fir’aun.

Keenam hal ini termasuk dalam kufur akbar (kufur besar) yang menjadikan pelakunya keluar dari Islam atau murtad. Terkadang kufur besar terjadi dengan ucapan atau perbuatan yang sangat bertolak belakang dengan iman seperti mencela Allah dan Rasul-Nya atau menginjak al Quran dalam keadaan tahu kalau itu adalah Al Quran dan tidak terpaksa.

Di samping yang tersebut di atas, ada pula kufur ashghar (kufur kecil), yang tidak mengeluarkan pelakunya dari agama atau tidak menjadikan murtad. Kufur ashghar iaitu perbuatan-perbuatan dosa yang disebut dengan istilah kekafiran dalam Al Quran mahupun As Sunnah tetapi belum mencapai darjat kufur besar. Misalnya kufur nikmat sebagaimana tersebut dalam surat An-Nahl ayat 112, atau membunuh seorang muslim.

Kesalahan memahami makna kufur:
Terdapat beberapa kesalahan dalam memahami makna kufur dalam penggunaan syariat, antara lain:

1. Segolongan orang memahami bahawa kekafiran hanya terbatas pada takdzib (pendustaan atau tidak percaya). Hal ini seperti diyakini oleh kelompok Murji’ah. Menurut mereka orang yang melakukan kekafiran dengan lisan atau amal seperti mencela Allah misalnya, dalam keadaan tahu dan tidak terpaksa, jika hatinya masih beriman maka ia tetap mukmin. Ini jelas salah.

2. Segolongan orang memahami bahawa kufur hanya terbatas pada kufur besar yang mengeluarkan dari agama sahaja. Dari sini mereka memahami (menafsirkan) semua lafaz kufur dalam Al Quran mahupun hadis dengan makna ini (kufur besar). Akhirnya orang yang membunuh dianggap oleh mereka kafir, orang yang berhukum dengan selain hukum Allah dianggap pula kafir secara mutlak. Ini juga salah kerana walaupun perbuatan-perbuatan tersebut terdapat dalam syariat namun ada dalil lain yang menunjukkan bahawa semua itu belum mencapai tingkatan kufur besar. Perbuatan tersebut digolongkan sebagai kufur kecil atau diistilahkan oleh ulama dengan kufrun duna kufrin, yakni kekafiran di bawah kekafiran yang besar.

[ Next Thread | Previous Thread | Next Message | Previous Message ]


Post a message:
This forum requires an account to post.
[ Create Account ]
[ Login ]
[ Contact Forum Admin ]


Forum timezone: GMT+8
VF Version: 3.00b, ConfDB:
Before posting please read our privacy policy.
VoyForums(tm) is a Free Service from Voyager Info-Systems.
Copyright © 1998-2019 Voyager Info-Systems. All Rights Reserved.